Friday, 25 September 2015
Status Klinik Fraktur Tibia Plateau
BAB III
LAPORAN STATUS KLINIK
I. KETERANGAN UMUM PENDERITA
Nama : Nn. S
Umur : 19 Tahun
Jenis Kelamin : Perempuan
Agama : Islam
Pekerjaan : Wiraswasta
Alamat : Samporejo, Jombangan Sragen
No. RM : 202457
II. DATA-DATA MEDIS RUMAH SAKIT
A. DIAGNOSA MEDIS tanggal 6 Juli 2011
Open fracture Tibia Plateau Schatzkter I
B. CATATAN KLINIS
- Foto rontgen fraktur tibia plateu Dextra
Plate and Screw
C. TERAPI UMUM (GENERAL TREATMENT)
1. Medikamentosa
- Gentanyein 2x80 gr
- ketarola 3 x 1 mm
- ATS 500 grm
- Injeksi RI 28 mm
2. Hasil Lab
- HB 12.0 Gr/dl (12-14 Gr/dl)
- Leukosit 14900 mmn 3 (5000 – 10.000)
- Hematokrit 33 Vol % (37 – 43)
- Masaperdura 2 menit (1 – 3 menit)
- Trombosit 293000 mm3 (150000 – 500)
- GDS 114 mg/dl (30 – 100)
D. RUJUKAN FISIOTERAPI
Mohon dilakukan tindakan fisioterapi pada pasien atas Nn. S dengan kondisi Fraktur Tibia Plateu Dextra Schatzker I
III. SEGI FISIOTERAPI
TANGGAL 6 Juli 2011
A. DATA FISIOTERAPI
1. ANAMNESIS (AUTO ANAMNESIS)
a. Keluhan Utama
Pasien mengeluhkan kaku dan sakit pada lutut kanan dan bertambah sakit saat menggerakkan.
b. Riwayat Penyakit Sekarang
Tanggal 4 juli 2011 mengalami kecelakaan bermotor di daerah sragen. Pada hari itu juga di bawa ke RSUD Sragen. Di sana dilakukan rontgen dan dilakukan tindakan medis. Pada tanggal 5 juli 2011, pasien di rujuk ke RSO Surakarta. Di RSO dilakukan rontgen ulang dan di rawat di bangsal Bougenveil. Pada tanggal 6 juli 2011 jam 03.00 dilakukan operasi dengan pemasangan plate and screw. Hingga saat ini pasien masih di rawat di bangsal RSO Surakarta
c. Riwayat Penyakit Dahulu
Tidak ada riwayat penyakit dahulu
d. Riwayat Penyakit Penyerta
Diabetes Militus
e. Riwayat Pribadi
Pasien adalah seorang karyawati yang kesehariannya dalam bekerja mengendarai motor sendiri.
f. Riwayat Keluarga
Tidak ada anggota keluarga yang menderita penyakit serupa seperti yang diderita pasien sekarang. Kasus ini juga bukan merupakan penyakit keturunan.
g. Anamnesis Sistem
1) Kepala dan Leher
Pusing (-), Kaku pada leher (-).
2) Sistem Kardiovaskuler
Nyeri dada (-), rasa berdebar-debar (-)
3) Sistem Respirasi
Sesak nafas (-), Batuk (-)
4) Sistem Gastrointestinal
Tidak ada keluhan
5) Sistem Urogenital
Tidak ada keluhan
6) Sistem Muskuloskeletal
Adanya kekakuan otot sekitar paha dan betis kanan
7) Sistem Nervorum
Adanya rasa tebal-tebal pada kaki kanan bagian bawah
2. PEMERIKSAAN FISIK
a. Tanda-tanda Vital
1) Tekanan Darah : 120/80 mmHg
2) Denyut Nadi : 82 kali / menit
3) Frekuensi Pernafasan : 22 kali / menit
4) Temperatur : 360C
b. Inspeksi
1) Statis : Terlihat terpasang infus pada lengan kiri
Pada kaki kanan terpasang bandage
Ekspresi pasien menahan sakit
Adanya oedema disekitar lutut
2) Dinamis : saat menekuk lutut pasien mengalami kesulitan
c. Palpasi
- Adanya nyeri tekan pada area pepatahan.
- Suhu lokal antara sekitar lutut kanan dan kiri ada perbedaan suhu
- Tidak adanya spasme di sekitar lutut kanan
d. Perkusi
Tidak dilakukan.
e. Auskultasi
Tidak dilakukan.
f. Gerakan Dasar
1) Gerak aktif
Knee
Pada gerakan fleksi dan ekstensi knee mampu, ada nyeri, dan ROM terbatas.
Ankle
Pada gerakan fleksi, ekstensi, inversi, dan eversi ankle mampu, ada nyeri pada pertengahan gerakan, ROM terbatas
2) Gerak pasif
Knee
Pada gerakan fleksi dan ekstensi pasif mampu digerakkan, ada nyeri, ROM terbatas, dan firm end feel
Ankle
Pada gerakan fleksi, ekstensi, inversi, dan eversi ankle mampu digerakkan, ada nyeri, ROM terbatas, dan firm end feel
3) Gerak aktif melawan tahanan
Knee
Pada gerakan fleksi dan ekstensi knee belum mampu melawan tahanan minimal dan ada nyeri
Ankle
Pada gerakan fleksi, ekstensi, inversi, dan eversi ankle belum mampu melawan tahanan minimal dan ada nyeri
g. Kognitif, Intra Personal dan Inter Personal
1) Kognitif : pasien mampu menceritakan perihal awal muncul penyakit yang dialaminya dari awal dengan jelas dan lengkap.
2) Intra personal : pasien memiliki keinginan besar dan semangat yang sangat kuat untuk sembuh.
3) Inter personal : pasien dapat berkomunikasi dengan terapis secara jelas dan lengkap.
h. Kemampuan Fungsional dan Lingkungan Aktifitas
1) Fungsional Dasar :
Pasien mampu menekuk dan meluruskan kaki tapi masih terbatas
2) Fungsional aktivitas :
Pasien belum mampu melakukan ambulasi transfer sendiri tanpa bantuan.
Adanya keterbatasan dalam melakukan aktifitas fungsional sehari-hari
3) Lingkungan Aktifitas:
Lingkungan aktifitas pasien mendukung pasien untuk sembuh.
3. PEMERIKSAAN SPESIFIK UNTUK FT C
a. Nyeri dengan menggunakan VAS
- Nyeri diam : 79 mm
- Nyeri tekan : 82 mm
- Nyeri gerak : 85 mm
b. Antropometri (titik patok : edyconilus lateralis tibia)
Kanan Kiri
5 cm kedistal ( bandage ) : 31 cm 5 cm ke distal : 29 cm
10 cm kedistal ( bandage ) : 30 cm 10 cm ke distal : 28 cm
15 cm ke distal ( bandage ) : 29 cm 15 cm ke distal : 27 cm
Kanan Kiri
5 cm proksimal ( bandage ) : 32 cm 5 cm ke proksimal : 28 cm
10 cm proksimal ( bandage ) : 32 cm 10 cm ke proksimal : 28 cm
15 cm ke proksimal ( bandage ) : 27 cm 15 cm keatas : 29 cm
c. Kekuatan otot dengan MMT
Group otot kanan Kiri
Fleksor knee 3 5
Ekstensor knee 3 5
Fleksor ankle 3 5
Ekstensor ankle 3 5
Invertor ankle 3 5
Evertor ankle 3 5
d. LGS dengan Goneometer
Aktif
Kanan Kiri
Knee S = 0 – 0 – 50 S = 0 – 0 – 160
ankle S = 10 – 0 – 20
T = 10 – 0 – 5 5 = 30 – 0 – 45
T = 15 – 0 – 9
Pasif
Kanan Kiri
knee S = 0 – 0 – 90 S = 0 – 0 – 160
ankle S = 20 – 0 – 25
T = 10 – 0 – 5 5 = 30 – 0 – 45
T = 15 – 0 – 9
B. INTERPRESTASI DATA / DIAGNOSIS FISIOTERAPI
1. Impairment
- nyeri di sekitar incisi tibia proksimal antero lateral kanan
- oedema di proksimal tibia kanan
- Keterbatasan LGS knee dan ankle
- Penurunan kekuatan otot fleksor dan ekstensor knee, fleksor, ekstensor, invertor, evertor ankle kanan
2. Functional Limitation
- Keterbatasan dalam duduk
- Keterbatasan dalam berdiri mandiri
- Keterbatasan dalam berjalan mandiri
3. Disability
Belum mampu bersosial karena masih rawat inap
C. PROGRAM / RENCANA FISIOTERAPI
1. Tujuan
a. Tujuan jangka pendek
1) Mengurangi nyeri
2) Meningkatkan LGS
3) Meningkatkan kekuatan otot
4) Mengurangi oedema
5) Tranver dan ambulasi dengan alat bantu
b. Tujuan jangka panjang
Berjalan mandiri tanpa alat bantu
2. Tindakan Fisioterapi
a. Teknologi Fisioterapi
1) Mobilisasi aktif
2) Hold relax
3) Static contraction
4) Closed kinetic chain
5) Latihan jalan ( NWB ).
3. Rencana Evaluasi
a. Evaluasi nyeri dengan menggunakan VAS.
b. Evaluasi odema menggunakan midline
c. Evaluasi LGS dengan menggunakan Goneometer
d. Evaluasi Kekuatan Otot dengan menggunakan MMT
e. Evaluasi fungsional dengan LEFS
D. PROGNOSIS
1. Quo ad Vitam : Baik
2. Quo ad Sanam : Baik
3. Quo ad Fungsionam : Baik
4. Quo ad Cosmeticam : Baik
E. PELAKSANAAN FISIOTERAPI
1. Static contraction
Posisi pasien terlentang, lalu tangan terapis berada pada punggung kaki pasien. Terapis menginstruksikan untuk melawan tangan terapis. Terapis hanya menahan tidak mendorong.
2. Free active movement
Posisi pasien terlentang, pasien diinstruksikan untuk menggerakkan lutut dan pergelangan kaki dengan aktif sampai batas nyeri pasien.
3. Closed kinetic chain
Pertama pasien di instruksikan untuk ke tepi bed, lalu ke posisi tengkurap dengan bertumpu pada kaki yang sehat. Lalu pasien di sruh untuk ke ujung dari bed. Pergelangan kaki pasien diinstruksikan untuk keluar dari bed. Perlahan pasien diperintahkan secara aktif untuk ke posisi merangkak dengan pergelangan kaki berada di luar bed. Fiksasai pasien berada pada lutut bagian posterior pasien dan tangan terapis yang satunya berada pada pinggang pasien untuk menahan supaya tidak jatuh. Dari posisi merangkak pasien diinstruksikan secara perlahan ke posisi duduk bersimpuh.
4. Latihan jalan
Latihan jalan pada kondisi ini adalah Non Weight bearing dimana tungkai yang fraktur tidak menumpu dan berat badan tumpuannya pada kaki kiri dan kedua tangan.
F. EVALUASI
1. Evaluasi Nyeri menggunakan VAS
T0 T1 T2
Nyeri Diam 79 mm 30 mm 10 mm
Nyeri Tekan 85 mm 45 mm 30 mm
Nyeri Gerak 82 mm 35 mm 20 mm
2. Evaluasi oedema menggunakan midline
T1 T2 T3
Distal Proksimal Distal Proksimal Distal Proksimal
5 cm 31 cm 32 cm 31 cm 32 cm 31 cm 30 cm
10 cm 30 cm 32 cm 30 cm 32 cm 30 cm 30 cm
15 cm 29 cm 27 cm 29 cm 27 cm 29 cm 27 cm
5. Evaluasi kekuatan otot dengan MMT
Group otot T1 T2 T3
Fleksor knee 3 4 4
Ekstensor knee 3 4 4
Fleksor ankle 3 4 4
Ekstensor ankle 3 4 4
Invertor ankle 3 3 4
Evertor ankle 3 3 4
6. Evaluasi LGS dengan Goneometer
Aktif
T1 T2 T3
Knee S = 0 – 0 – 50 S = 0 – 0 – 60 S = 0 – 0 – 90
Ankle S = 10 – 0 – 25
T = 10 – 0 – 5 S = 10 – 0 – 25
T = 10 – 0 – 5 S = 10 – 0 – 30
T = 10 – 0 – 15
Pasif
T1 T2 T3
Knee S = 0 – 0 – 90 S = 0 – 0 – 100 S = 0 – 0 – 120
Ankle S = 20 – 0 – 25
T = 10 – 0 – 5 S = 20 – 0 – 25
T = 10 – 0 – 5 S = 20 – 0 – 25
T = 10 – 0 – 5
G. HASIL EVALUASI TERAPI TERAKHIR
Setelah diberikan 3 kali tindakan fisioterapi, adanya pengurangan nyeri, peningkatan ROM, peningkatan kekuatan otot, pengurangan oedema, peningkatan kemampuan fungsional dalam hal berdiri dan berjalan menggunakan 2 kruk dengan fase berjalan non weight bearing
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment