BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A.
Anatomi dan Biomekanika
1.
Anatomi dan Fisiologi
Dalam
menghadapi suatu kondisi seorang fisioterapis harus mengetahui tentang anatomi
dan fisiologi yang berhubungan dengan kondisi penyakit tersebut. Hal ini sangat
penting untuk mengetahui kelainan atau kerusakan yang terjadi pada tulang,
otak, saraf, dan pembuluh darah. Dengan mengetahui struktur dan jaringan yang
rusak akan lebih mudah untuk menegakan diagnosa dan terapi suatu kondisi. Pada
kondisi paraplegi penulis akan membahas tentang: (1) osteologi vertebra thoraco lumbal, (2) biomekanik vertebra thorako
lumbal, (3) medulla spinalis, (4) sirkulasi darah medulla spinalis, (5) nervi spinalis thorako lumbal.
1.1. Osteologi Vertebra Thoraco Lumbal
Tulang vertebra terdri dari 33 tulang :
7 buah tulang servikal, 12 buah tulang thorakal, 5 buah tulang lumbal, 5 buah
tulang sacral dan 4 buah koksigeus. Tulang servikal, thorakal dan lumbal masih
tetap dibedakan sampai usia berapapun, tetapi tulang sacral dan koksigeus satu
sama lain menyatu membentuk dua tulang yaitu tulang sacrum dan koksigeus.
Diskus intervertebrale merupakan penghubung antara dua korpus vertebra. Sistem
otot ligamentum membentuk jajaran barisan (aligment) tulang belakang dan
memungkinkan mobilitas vertebra (Cailliet, 1981). Fungsi columna vertebralis
adalah menopang tubuh manusia dalam posisi tegak, yang secara mekanik
sebenarnya melawan pengaruh gaya
gravitasi agar tubuh secara seimbang tetap tegak (Cailliet, 1981).


Gambar 1 Gambar
2
Tulang vertebra lumbal IV, tampak cranial Tulang vertebra thorakhal XII
Tampak
lateral
(Sobotta, 2000) (Sobotta,
2000)
Vertebra
servikal, thorakal, lumbal bila diperhatikan satu dengan yang lainnya ada
perbedaan dalam ukuran dan bentuk, tetapi bila ditinjau lebih lanjut tulang
tersebut mempunyai bentuk yang sama. Korpus vertebra merupakan struktur yang
terbesar karena mengingat fungsinya sebagai penyangga berat badan. Prosesus
transversus terletak pada ke dua sisi korpus vertebra, merupakan tempat
melekatnya otot-otot punggung. Sedikit ke arah atas dan bawah dari prosesus
transversus terdapat facies artikularis vertebra dengan vertebra yang lainnya.
Arah permukaan facet joint mencegah membatasi gerakan yang berlawanan arah
dengan permukaan facet joint. Pada daerah lumbal facet terletak pada bidang
vertikal sagital memungkinkan gerakan fleksi dan ekstensi ke arah anterior dan
posterior. Pada sikap lordosis lumbalis (hiperekstensi lumbal) kedua facet saling
mendekat sehingga gerakan kelateral, oblique dan berputar terhambat, tetapi
pada posisi sedikit fleksi kedepan (lordosis dikurangi) kedua facet saling
menjauh sehingga memungkinkan gerakan ke lateral berputar.
Bagian lain dari vertebra, adalah
“lamina” dan “pedikel” yang membentuk arkus tulang vertebra, yang berfungsi
melindungi foramen spinalis. Prosesus spinosus merupakan bagian posterior dan
vertebra yang bila diraba terasa sebagai tonjolan, berfungsi tempat melekatnya
otot-otot punggung. Diantara dua buah buah tulang vertebra terdapat discus intervertebralis
yang berfungsi sebagai bantalan atau “shock absorbers” bila vertebra bergerak.
Diskus
intervertebralis terdiri dari annulus fibrosus yaitu masa fibroelastik yang
membungkus nucleus pulposus, suatu cairan gel kolloid yang mengandung
mukopolisakarida. Bila suatu tekanan kompresi yang merata bekerja pada vertebra
maka tekanan itu akan disalurkan secara merata ke seluruh diskus
intervertebralis. Bila suatu gaya
bekerja pada satu sisi yang lain, nucleus polposus akan melawan gaya tersebut secara
lebih dominan pada sudut sisi lain yang berlawanan. Keadaan ini terjadi pada
berbagai macam gerakan vertebra seperti fleksi, ekstensi, laterofleksi
(Calliet, 1981). Karena proses penuaan pada diskus intervebralis, maka kadar
cairan dan elastisitas diskus akan menurun. Keadaan ini mengakibatkan ruang
diskus intervebralis makin menyempit, “facet joint” makin merapat, kemampuan
kerja diskus menjadi makin buruk, annulus menjadi lebih rapuh. Ligamentum
spinalis berjalan longitudinal sepanjang tulang vertebra. Ligamentum ini
berfungsi membatasi gerak pada arah tertentu dan mencegah robekan. (Cailliet,
1981).
Diskus intervebralis dikelilingi oleh
ligamentum anterior dan ligamentum posterior. Ligamentum longitudinal anterior
berjalan di bagian anterior corpus vertebra, besar dan kuat, berfungsi sebagai
alat pelengkap penguat antara vertebra yang satu dengan yang lainnya.
ligamentum longitudinal posterior berjalan di bagian posterior corpus
vertebrae, yang juga turut membentuk permukaan anterior kanalis spinalis.
Ligamentum tersebut melekat sepanjang kolumna vertebralis, sampai di daerah
lumbal yaitu setinggi L1, secara progresif mengecil, maka ketika mencapai L5 –
sacrum ligamentum tersebut tinggal sebagian lebarnya, yang secara fungsional
potensiil mengalami kerusakan. Ligamentum yang mengecil ini secara fisiologis
merupakan titik lemah dimana gaya
statistik bekerja dan dimana gerakan spinal yang terbesar terjadi, disitulah
mudah terjadi cidera kinetic (Cailliet, 1981).
Otot punggung bawah dikelompokkan
kesesuai dengan fungsi gerakannya. Otot yang berfungsi mempertahankan posisi
tubuh tetap tegak dan secara aktif mengekstensikan vertebrae lumbalis adalah : m.
quadratus lumborum, m. sacrospinalis, m. intertransversarii dan m. interspinalis.
Otot fleksor lumbalis adalah muskulus abdominalis mencakup : m. obliqus
eksternus abdominis, m. internus abdominis, m. transversalis abdominis dan
m. rectus abdominis, m. psoas mayor dan m. psoas minor. Otot latero
fleksi lumbalis adalah m. quadratus lumborum, m. psoas mayor dan
minor, kelompok m. abdominis dan m. intertransversarii. Jadi dengan
melihat fungsi otot di atas otot punggung di bawah berfungsi menggerakkan
punggung bawah dan membantu mempertahankan posisi tubuh berdiri (Cailliet, 1981).
1.2.
Biomekanik Vertebra Thorako Lumbal
Sudut lumbosakral adalah sudut yang
dibentuk oleh permukaan os sakrum dengan garis horizontal. Normal besar sudut
lumbosakral (sudut Ferguson)
30 derajat. Rotasi pelvis ke atas memperkecil sudut lumbosakral sedangkan
rotasi pelvis ke bawah memperbesar sudut lumbosakralis. Gerakan ekstensi
vertebrae dari vertebrae lumbalis hanya sedikit. Hiperekstensi dicegah oleh
Ligamentum longitudinale anterior. Sedangkan gerakan fleksi 60% - 75% terjadi
pada antara L5 dan S1, 20 % - 25 % terjadi antara L4 dan L5 dan 5% - 10%
terjadi antara L1 – L4 (terbanyak antara L2 – L4). Tempat dan besarnya fleksi
yang mungkin pada vertebra lumbalis (Cailliet, 1981).
Bila seseorang membungkuk untuk mencoba
menyentuh lantai dengan jari tangan tanpa fleksi lutut, selain fleksi dari
lumbal harus dibantu dengan rotasi dari pelvis dan sendi koksae. Perbandingan
antara rotasi pelvis dan fleksi lumbal disebut ritme lumbal - pelvis. Secara
singkat punggung bawah merupakan suatu struktur yang kompleks, dimana tulang
vertebrae, discus intervertebralis, ligamen dan otot akan akan bekerjasama
membuat manusia tegak, memungkinkan terjadinya gerakan dan stabilitas. Vertebra
lumbalis berfungsi menahan tekanan gaya
statik dan gaya
kinetik (dinamik) yang sangat besar maka dari itu cenderung terkena ruda paksa
dan cedera medulla spinalis (Cailliet, 1981).
1.3. Medulla Spinalis
Medulla spinalis merupakan massa jaringan saraf yang
berbentuk silendris memanjang dan menempati dua per tiga atas canalis vertebra.
Pada orang dewasa, biasanya ukuran panjangnya 42-45 cm. Medulla spinalis
memanjang dari batas superior atlas (vertebra cervicalis pertama) sampai batas
atas vertebra lumbalis kedua. Pada ujung rostralnya, medulla spinalis diteruskan
oleh medulla oblongata. Conus medullaris merupakan ujung inferior atau distal
yang berbentuk kerucut (conus). Dari apex conus tersebut berjalan suatu filamen
yang memanjang dan melekat pada segmen pertama os cocygeus (Chusid, 1983).
Medulla spinalis mempunyai tiga helai
membran yaitu durameter, arachnoid, dan piameter. Dura mater adalah membran yang paling luar, merupakan selubung
fibrosa yang liat dan berbentuk tabung yang memanjang ke bawah sampai vertebra
sacralis kedua dimana selubung ini berakhir sebagai sebuah kantong yang buntu.
Ruang epidural memisahkan dura mater dari tulang collumna vertebra berisi
jaringan areolar longgar dan plexus vena. Ruang subdural merupakan ruang tipis
diantara durameter dan arachnoid yang ada dibawahnya. Arachnoid adalah selubung tipis, transparan yang terpisahkan dari
piameter dibawahnya oleh ruang arachnoid yang berisi kumpulan cairan
cerebrospinal. Piameter meliputi medulla
spinalis dengan rapat dan septum-septumnya masuk ke dalam substansi medulla
spinalis (Chusid, 1983).


Gambar 3 Gambar
4
Potongan melintang Medulla Spinalis Potongan melintang Medulla
Spinalis
pars
lumbalis
(Sobotta, 2000) (Sobotta,
2000)
Fillum
terminale tersusun terutama dari jaringan fibrosa dan diteruskan dengan
piameter. Bagian tiga per empat proksimal dari fillum terminale yang
dikelilingi oleh cauda equina, dikenal sebagai fillum terminale interna. Bagian
sisanya yang dibungkus rapat oleh dura mater, dikenal sebagai fillum terminale
externa dan melekat pada bagian belakang segmen pertama os coccygeus.
Ligamentum denticulata berjalan dari tiap segmen permukaan lateral pia meter
dan dilekatkan pada permukaan dalam dura mater oleh rangkaian processus
(Chusid, 1983).
Pada medulla spinalis terdapat fissura mediana anterior dan sulcus medianus posterior, yang dapat dianggap memisahkan medulla
spinalis menjadi belahan kanan dan kiri yang simetris serta berhubungan dengan
bagian tengah. Fisura mediana anterior
relatif dalam dan berisi lipatan pia meter, lantainya dibentuk oleh substansia
alba, yaitu commisura alba anterior Sulcus medianus posterior merupakan alur
yang dangkal. Pada daerah cervical dan thoracal atas, timbul sulcus intermedius
posterior pada permukaan dorsal medulla spinalis di posterior melekat pada
medulla spinalis sepanjang alur vertikal, yaitu sulcus posterolateralis yang
terletak dekat sulcus medinus posterior,di sebelah anteriornya (Chusid, 1983).
Setiap belahan lateral dan medulla
spinalis dapat dibagi menjadi columna atau funiculus. Columna atau funikulus
posterior terletak diantara sulcus medianus posterior dan sulcus
posterolateralis. Pada daerah cervical dan thoracal atas, columna posterior
dibagi oleh sulcus intermedius posterior menjadi bagian medial, facikulus
gracilis, dan bagian lateral, faciculus cuneatus.Columna lateralis terdapat
diantara sulcus posterolateralis dan sulcus anterolateralis, garis asal dari
radiks anterior. Columna anterior terdapat diantara sulcus anterolateralis dan
fisura mediana anterior. Canalis centralis berjalan disepanjang medulla
spinalis. Saluran ini dilapisi oleh sel-sel ependym,berisi liquor
cerebrospinalis dan meneruskan diri ke atas bermuara pada bagian posterior
ventriculus quartus didalam medulla oblongata (Chusid, 1983).
1.4. Sirkulasi
Darah Medulla Spinalis
Arteri spinalis anterior yang dibentuk
oleh persatuan pasangan cabang-cabang arteri vertrebalis pada garis tengah, berjalan
di sepanjang permukaan anterior medulla spinalis cervicalis dan menyempit pada
suatu tempat di dekat segmen thoracalis atas (keempat). Arteri spinalis
lateralis timbul sebagai perangkat
tunggal cabang-cabang arteri vertebralis dan berjalan melalui foramen
intervertebra cervical bawah serta thoracal atas untuk memperdarahi
segmen-segmen medulla spinalis dari C7 - Th2 (Chusid, 1983).
Arteri spinalis medialis anterior merupakan perpanjangan arteri spinalis
arteri spinalis anterior dibawah segmen medulla spinalis thoracal keempat. Pembuluh-pembuluh
arteri intercostalis dari aorta memberikan cabang-cabang segmental ke medulla
spinalis setinggi segmen lumbal yang pertama, cabang yang paling besar yaitu
arteri radicularis ventralis magna,memasuki medulla spinalis diantara segmen
medulla spinalis thoracal ke delapan dan
lumbal keempat. Arteri yang besar ini, yang juga dikenal seperti arteri
radicularis magna atau arteri dari Adamkiewics, biasanya timbul di kiri dan
pada bebeapa keadaan memberikan sebagian besar suplai darah pada belahan bawah
medulla spinalis (Chusid, 1983).
Di daerah lumbosacral, arteri-arteri
radicularis berasal dari ateri lumbalis, iliolumbalis, dan arteri sacralis
lateralis. Pembuluh nadi utama itu timbul dan memasuki foramen intervertebra
dan vertebra lumbal kedua untuk membentuk bagian terendah dari arteri spinalis
anterior, yang dinamakan arteri terminalis (Chusid, 1983).
Arteri spinalis posterior, yang juga
dikenal sebagai arteri spinalispoterolateralis, menerima cabang-cabang dari
plexus arteri posterolateralis pada berbagai ketinggian. Pembuluh-pembuluh
arteri spinalis posterior ini berpasang-pasangan dan jauh lebih kecil daripada
sebuah arteri spinalis anterior yang besar (Chusid, 1983).
Arteri
sulcalis anterior muncul dari arteri sinalis anterior pada berbagai ketinggian
di sepanjang medulla spinalis cervicalis dan thorcalis, di dalam sulcus
anterior. Pembuluh nadi ini memperdarahi columna anterior dan lateralis pada
salah satu sisi medulla spinalis. Pada setiap segmen medulla spinalis, hanya
satu sisi medulla spinalis memperoleh darah dari pembuluh nadi ini. Arteri
spinalis posterior memperdarahi columna alba posterior dan bagian yang lebih
posterior dari columna grisea posterior (Chusid, 1983).
Secara segmental, pembuluh-pembuluh nadi
yang memasuki foramen intervertebralis berasal dari arteri intercostalis dan
ateri sacralis lateralis, pembuluh-pembuluh nadi juga keluar dari arteri
radicularis dorsalis dan ventralis,yang masing-masing menyertai radiks saraf
posterior dan anterior. Pembuluh-pembuluh ini langsung bersatu dengan arteri
spinalis posterior dan anterior, serta kemudian secara segmental bersama-sama
sepanjang tepi medulla spinalis sebagai arteri coronae (Chusid, 1983).
1.5.Nervi Spinalis Thorako Lumbal
Medula spinalis
terbentuk dari 31 segmen jaringan saraf, diantaranya 8 servikalis, 12
thorakalis, 5 lumbalis, 5 sakralis dan 1 koksigealis. Saraf spinalis terdiri
dari akar saraf sensorik yang masuk dari masing-masing level medulla spinalis.
Akar saraf motorik yang keluar dari masing-masing level medulla vertebra masing-masing,
C8 keluar antara vertebra C7 dan vertebra Th1 dan

Gambar 5
Segmentasi medulla spinalis
(Sobotta, 2000)
selanjutnya saraf keluar lewat bawah vertebra masing-masing. Pada
semua saraf spinal kecuali bagian thoracal, saling membentuk jalinan saraf yang
membentuk pleksus. Setiap pleksus terdapat cabang-cabang yang menuju ke
bagian-bagian yang dipersarafi. Cabang ini merupakan saraf-saraf perifer dan
mempunyai nama khusus.
Pada sumsum tulang
belakang terdapat dua penebalan, yaitu penebalan cervical dan penebalan lumbal.
Dari penebalan ini, pleksus-pleksus saraf mensyarafi angota gerak atas dan
bawah. Dan pleksus dari daerah thorak membentuk saraf-saraf inter costalis
(Pearce, 1999).
Pleksus servikakis yang
mempersarafi leher dan belakang kepala dibentuk oleh saraf C1-C4, salah satu
cabang yang penting sekali adalah saraf frenikus yang mempersarafi diafragma.
Pleksus brakialis dibentuk oleh C5 sampai Th1 atau Th2 yang mempersarafi
ekstremitas atas. Saraf-saraf thorakal, T3-Th11 tidak
membentuk pleksus tapi keluar dari ruang interkostal sebagai
saraf interkostal, yang mempersarafi
otot-otot abdomen bagian atas dan kulit dada dan abdomen.
Pleksus lumbalis berasal dari segmen
spinal Th12-L4, pleksus sakralis dari L4-S4 dan pleksus koksigealis. L4 dan S4
ikut menyumbang cabang baik ke pleksus lumbalis maupun pleksus sakralis.
Saraf-saraf dari pleksus lumbalis mempersarafi otot-otot dan kulit tubuh bagian
bawah dan ekstremitas bawah (Chusid, 1983).
Pleksus
sakralis terdiri dari saraf L4 dan L5 dan saraf-saraf sakralis bergabung untuk
membentuk nervus iskhiarikus yang besar dan masuk ke dalam paha melalui celah
sacrum yang lebar, yang menuju otot paha. Kemudian nervus iskhriarikus
bercabang menjadi nervus popliteus medialis dan lateralis, yang menginervasi
otot sebelah belakang paha dan semua otot di sebelah belakang dan depan di
bawah lutut (Pearce, 1999).
Tabel
1
Hip Girdle and Lower Extremity (Chusid, 1983).
Action to be tested
|
Muscle
|
Cord segmen
|
Nerves
|
Plexus
|
Flexion of hip
Flexion of hip (and eversion of thigh)
Extension of leg
Adductin of thigh
Adduction of thigh
Lateral rotation of thigh
Abduction of thigh
Medial rotation of thigh
Flexion of thigh
Lateral rotation of thigh
Abduction of thigh
Lateral rotation of thigh
Flexion of leg (assist in extension of thigh)
Dorsal flexion of foot
Supination of foot
Extension of toes II-V
Dorsal flexion of foot
Extension of great toe
Dorsal flexion of foot
Extension of great toe and the 3 medial toes
Plantar flexion of foot in pronation
Plantar flexion of foot in supinaton
Plantar flexion of foot in supination
Flexion of terminal phalanx of toes II-V
Plantar flexion of foot in supination
Flexion of terminal phalanx of great toe
Flexion of middle phalank of toes II-V
Flexion of proximal phalanx of great toe
Spreading and closing of toes
Flexion of proximal phalank of toes
Voluntary control of pelvic floor
|
Iliopsoas
Sartorius
Quadriceps femuris
Pectinous
Adductor longus
Adductor brevis
Adductor magnus
Gracilis
Obturator extenus
Gluteus medius and minimus
Tensor facia latae
Piriformis
Gluteus maximus
Obturator internus
Gemeli
Quadratus femoris
Biceps femoris
Semi tendinosus
Semi membranosus
Tibialis anterior
Extensor digitorum longus
Extensor hallucis longus
Extensor digitorum brevis
Peronei
Tibialis posterior and triceps surae
Flexor digitorum longus
Flexor hallucis longus
Flexor digitorum brevis
Flexor hallucis brevis
Small mucles of foot
Perineal and sphincters
|
L1-3
L2-3
L2-4
L2-3
L2-3
L2-4
L3-4
L2-4
L3-4
L4-5, S1
L4-5
L5, S1
L4-5,
S1-2
L5, S1
L4-5, S
L4-5, S1
L4-5, S1-2
L4-5,S1
L4-5, S1
L4-5
L4-5, S1
L4-5, S1
L4-5, S1
L5, S1
L5, S1-2
L5, S1-2
L5, S1-2
L5, S1
L5, S1-2
S1-2
S2-4
|
Femoral
Obturator
Superior gluteal
Inferior gluteal
Muscular branches from sacral plexus
Sciatic (thrunk)
Deep peroneal
Superficial peroneal
Tibial
Pudendal
|
Lumbar
Sacral
sacral
|
B. Patologi dan Problematika Fisioterapi
1. Definisi
Paraplegi adalah paralysis parsial atau komplet pada kedua anggota gerak
bawah dan seluruh atau sebagian trunk sebagai akibat cedera medulla spinalis
pada thorakal atau lumbal atau percabangan saraf di sacral (Bromley, 1991).
Sedangkan menurut Trombly, 2002, paraplegi adalah kehilangan atau kelemahan
pada fungsi motorik dan sensorik pada segmen thorakal, lumbal atau sacral
medula spinalis yang menghasilkan kelemahan di trunk, tungkai dan organ-organ
pelvic.
Klasifikasi derajat kerusakan
medulla spinalis :
Frankel A = Complete, fungsi motoris dan sensoris hilang
sama sekali dibawah level lesi.
Frankel B = Incomplete, fungsi motoris hilang sama
sekali, sensoris masih
tersisa dibawah level
lesi.
Frankel C = Inkomplet,
fungsi motoris dan sensoris masih
terpelihara tetapi
tidak fungsional
Frankel D = Inkomplet,
fungsi sensorik dan motorik
masih terpelihara dan
Fungsional.
Frankel E = Normal,
fungsi sensoris dan
motorisnya normal tanpa deficit
neurologis.
2. Etiologi
Penyebab cedera medula spinalis dibedakan menjadi dua
yaitu akibat trauma dan non trauma. Delapan puluh persen cedera medula spinalis
disebabkan oleh trauma dan sisanya merupakan akibat dari patologi atraumatis
seperti carcinoma, mielitis, iskemia,
dan multipel sklerosis (Garrison, 1995). Cedera medulla spinalis yang
disebabkan oleh trauma diantaranya: (1) trauma langsung baik fraktur maupun
dislokasi, (2) kompresi atau penekanan oleh fragmen tulang.
3. Patofisiologi
Trauma pada columna vertebra dapat merusakkan vertebra dengan atau tanpa kerusakan spinal
cordnya atau sebaliknya dapat merusak spinal cord tanpa kerusakan tulangnya.
Kerusakan spinal cord ada 2 macam yaitu : (1) komplit, jika cidera pada spinal
cord menyebabkan seluruh kekuatan motoris dan sensorisnya hilang. (2)
inkomplit, apabila hanya sebagian kekuatan motoris atau sensorisnya hilang.
Collum vertebra distabilkan oleh beberapa ligamen, yaitu : (1) ligamen anterior
longitudinal, (2) ligamen posterior longitudinal, (3) ligamen plavum.
Berdasarkan ligamen yang menstabilkan, kerusakan atau cidera dari spinal cord dibedakan menjadi 2, yaitu : (1) cidera stabil, apabila ligamen-ligamennya masih dalam keadaan
utuh, (2) cidera tidak stabil, jika seluruh atau ligamen-ligamen tersebut
sehingga tidak dalam keadaan utuh sehingga bisa menyebabkan kerusakan yang
lebih berat.
Akibat adanya trauma
pada vertebra sehingga mengakibatkan adanya fraktur atau dislokasi pada daerah
tersebut. Maka akan terjadi perubahan struktur dari kurve vertebra. Jika
perpatahan tersebut meleset ke posterior, maka akan menekan medulla spinalis.
Apabila medulla spinalis mengalami kerusakan, maka akan berakibat terganggu
distribusi persarafan pada tonus-tonus otot di daerah anggota gerak bawah
sehingga terjadi kelumpuhan total pada anggota gerak bawah (paraplegi).
Distribusi persarafan yang terganggu mengakibatkan terjadinya gangguan pada
sensorik pada regio yang dipersarafi.
Trauma pada vertebra dapat mengakibatkan
bermacam-macam lesi tergantung dari type dan berat ringannya cidera. Setelah mengalami
cidera maka seluruh fungsi sensoris dan motoris akan terhenti, termasuk fungsi bladder dan bowel. Daerah dibawah kerusakan lesi akan hilang semua aktivitas
refleknya, keadaan ini disebut spinal
shock. Masa spinal shock ini
dapat berlangsung beberapa jam, hari, minggu, atau bahkan dalam hitungan bulan.
Prognosis akan semakin baik bila masa spinal
shock ini berlangsung tidak terlalu lama. Pada masa spinal shock semua otot akan dalam keadaan flaccid. Setelah masa spinal shock ini berakhir, otot-otot
yang mendapat distribusi saraf dari level kerusakan akan flaccid permanen.
Menurut berat ringannya kerusakan, lesi
pada medulla spinalis dapat dibedakan menjadi : (1) commotio medulla spinalis
atau gegar medulla spinalis dimana menyebabkan gangguan fungsi pada medulla
spinalis yang hanya bersifat sementara, (2) contusio medulla spinalis, dimana
medulla spinalis mengalami memar, akan tetapi belum terputus sehingga gangguan
fungsi akan lebih berat dibanding dengan commotio medulla spinalis, (3)
laserasio medulla spinalis, biasanya terjadi akibat trauma langsung sehingga
medulla spinalis mengalami kerobekan dan mengakibatkan gangguan fungsi yang
berat, (4) kerusakan total medulla spinalis, (5) perdarahan pada medulla
spinalis karena gangguan pada pembuluh darah, sehingga darah yang keluar akan
mengumpul disekitar medulla spinalis dan menyebabkan pembengkakan yang dapat
menekan medulla spinalis dan menimbulkan gangguan fungsi. Kerusakan akibat perdarahan
ini biasanya terjadi pada substanncia gricea.
Berdasar lesi pada medulla spinalis,
prognosis akan semakin baik apabila terdapat sisa sensasi apapun pada daerah
dibawah level kerusakan (cidera medulla spinalis yang inkomplit). prognosis
akan semakin buruk bila terjadi paralisis lengkap dan anesthesia dibawah level
kerusakan cidera medulla spinalis komplit) (Appley, 1995).
4. Tanda dan gejala klinis
a. Gangguan motorik
Cedera medula spinalis yang baru saja terjadi, bersifat komplit dan terjadi kerusakan sel-sel saraf pada medula
spinalisnya menyebabkan gangguan arcus reflek dan flaccid paralisis dari
otot-otot yang disarafi sesuai dengan segmen-segmen medula spinalis yang
cedera. Pada awal kejadian akan mengalami spinal
shock yang berlangsung sesaat setelah kejadian sampai beberapa hari bahkan
sampai enam minggu. Spinal shock ini ditandai dengan hilangnya reflek dan flaccid.
Apabila lesi terjadi di mid thorakal maka gangguan refleknya sedikit tetapi
apabila terjadi di lumbal beberapa otot-otot anggota gerak bawah akan mengalami
flacid paralisis (Bromley, 1991).
b. Gangguan sensorik
Pada
kondisi paraplegi salah satu gangguan sensoris yaitu adanya paraplegic pain dimana nyeri tersebut
merupakan gangguan saraf tepi atau sistem saraf pusat yaitu sel-sel yang ada di
saraf pusat mengalami gangguan.(Crosbie, 1993). Selain itu kulit dibawah level
kerusakan akan mengalami anaesthes, karena terputusnya serabut-serabut saraf
sensoris.
c. Gangguan bladder
Efek
gangguan fungsi bladder tergantung pada level cedera medula spinalis, derajat
kerusakan medula spinalis, dan waktu setelah terjadinya injury. Paralisis
bladder terjadi pada hari-hari pertama setelah injury selama periode ‘spinal
shock’. Seluruh reflek bladder dan dan aktivitas otot-ototnya hilang. Pasien
akan mengalami gangguan retensi diikuti dengan pasif incontinensia (Bromley,
1991).
d. Gangguan
fungsi seksual
1) Pria
Pasien pria dengan lesi tingkat tinggi untuk beberapa jam atau
beberapa hari setelah cidera. Seluruh bagian dari fungsi sekual mengalami
gangguan pada fase spinal shock. Kembalinya fungsi seksual tergantung pada level cidera
dan komplit/ tidaknya lesi. Untuk dengan lesi komplet diatas pusat reflex pada
conus, otomatisasi ereksi terjadi akibat respon lokal, tetapi akan terjadi gangguan
sensasi selama aktivitas seksual.
Pasien dengan level cidera rendah pusat reflex sakral masih
mempunyai reflex ereksi dan ereksi psychogenic
jika jalur simpatis tidak mengalami kerusakan, biasanya pasien mampu untuk
ejakulasi, cairan akan melalui uretra yang kemudian keluarnya cairan diatur
oleh kontraksi dari internal bladder
sphincter.
Kemampuan fungsi seksual sangat bervariasi pada pasien dengan
lesi incomplete, tergantung seberapa
berat kerusakan pada medula spinalisnya. Gangguan sensasi pada penis sering
terjadi dalam hal ini. Masalah yang terjadi berhubungan dengan locomotor dan
aktivitas otot secara volunter.
Dapat dilakukan tes untuk mengetahui potensi sekual dan
fertilitas. Selain itu banyak pasangan yang memerlukan bantuan untuk belajar
teknik-teknik keberhasilan untuk hamil (Hirsch, 1990; Brindley, 1984 dikutip
oleh Bromley, 1991 ).
2) Wanita
2.1. Menstruasi
Gangguan
siklus menstruasi banyak terjadi pada wanita dengan lesi komplit atau
inkomplit. Gangguan ini dapat terjadi untuk beberapa bulan atau lebih dari
setahun. Terkadang siklus menstruasinya akan kembali normal
2.2. Kehamilan
Pada
pasien wanita dengan lesi yang komplet akan mengalami gangguan sensasi pada
organ genitalnya dan gangguan untuk fungsi seksualnya. Pada paraplegi wanita
dapat hamil dan mempunyai anak yang normal dengan lahir normal atau dengan sectio caesar (SC) jika memang indikasi. Kontraksi uterus akan terjadi
secara normal untuk cidera diatas level Th6, kontraksi uterus yang terjadi
karena reflek otonom. Pasien dengan lesi komplit pada Th6 dan dibawahnya. Akan
mengalami nyeri uterus untuk pasien dengan lesi komplet Th6, Th7, Th8 perlu
mendapatkan pengawasan khusus biasanya oleh rumah sakit sampai proses
kehamilan.
e. Autonomic desreflexsia
Autonomic desreflexia adalah reflek
vaskuler yang terjadi akibat respon stimulus dari bladder, bowel atau organ dalam lain dibawah level cedera yang
tinggi, fisioterapis harus tanggap terhadap tanda-tanda terjadinya autonomic pysreflexia antara lain: (1)
keluar banyak keringat pada kepala, leher, dan bahu, (2) naiknya tekanan darah,
(3) denyut nadi rendah, (4) pusing atau sakit kepala.
Overdistension akibat terhambatnya
kateter dapat meningkatkan aktivitas dari reflek ini dengan cepat ditanggulangi
dapat menyebabkan pendarahan otak, bahkan kematian. Dapat juga disebabkan oleh
spasme yang kuat dan akibat perubahan posisi yang tiba-tiba, seperti saat tilting table.
5. Komplikasi
Komplikasi yang
sering muncul pada paraplegi antara lain: (1) chest complication, (2) deep
venous thrombosis, (3) pulmonary embolism , (4) atrofi, (5) contractur,
(6) osteoporosis, (7) syringomyelia, (8) spastisitas, (9) pressure sore (Ida Bromley,1991).
6. Prognosis
Spinal Cord Injury baik komplet maupun inkomplet
dapat menimbulkan kecacatan yang menetap tergantung pada ada tidaknya
komplikasi yang membahayakan setelah cedera. Selain itu juga tergantung pada
letak topis lesi dan kerusakan yang terjadi. Jika seseorang dengan lesi komplit
(frankel A), yang mana tidak juga sembuh pada 3 bulan pertama, maka usaha
penyembuhan lebih lanjut tidak dapat diharapkan. Namun jika lesi tersebut
berupa lesi inkomplet (frankel B,C & D), maka usaha penyembuhan baik
sensorik maupun motorik masih mungkin terjadi hingga waktu setahun atau lebih
mulai dari waktu cedera. (Garrison, 1995).
7
Diskripsi problematik fisioterapi
Problematik yang
sering muncul pada kasus paraplegia yaitu
impairment seperti adanya pressure sore (decubitus), penurunan kekuatan
otot tungkai dan potensial terjadi kontraktur otot, kelemahan otot stabilisator
vertebra, penurunan sensasi, gangguan fungsi
bladder dan bowel. Functional limitation merupakan gangguan
aktivitas fungsional dasar seperti miring, duduk dan berdiri serta gangguan
aktivitas berjalan dan disability
yaitu ketidakmampuan melaksanakan kegiatan yang berhubungan dengan lingkungan.
C. Teknologi Intervensi Fisioterapi
Terapi latihan adalah salah satu upaya pengobatan dalam fisioterapi
yang pelaksanaannya dengan menggunakan pelatihan-pelatihan gerak tubuh baik
secara aktif maupun secara pasif. (Kisner, 1996)
Secara umum tujuan terapi latihan meliputi pencegahan
disfungsi dengan pengembangan, peningkatan, perbaikan atau pemeliharaan dari
kekuatan dan daya tahan otot, kemampuan kardivaskuler, mobilitas dan
fleksibilitas jaringan lunak, stabilitas, rileksasi, koordinasi keseimbangan
dan kemampuan fungsional. (Kisner, 1996).
- Breathing Exercise
Breathing exercise
dilakukan menggunakan teknik deep
breathing dan chest expantion.
- Latihan Gerak Pasif
Yaitu latihan atau gerak pada suatu segmen pada tubuh
dimana kekuatannya berasal dari luar, bukan dari kontraksi otot, kekuatan dapat
berupa mesin, individu lain atau bagian lain dari tubuh individu itu sendiri. Latihan
gerak pasif diawali dengan penguluran, pasien rileks, gerak dilakukan secara
lambat, kekuatan berasal dari luar, dilakukan sampai dengan batas ROM tertentu
dan tidak menimbulkan rasa nyeri.
- Latihan Gerak Aktif
Yaitu gerakan yang dilakukan oleh adanya kekuatan otot dari bagian tubuh
itu sendiri. Latihan ini dibagi menjadi :
3.1 Assisted Active Movement
Gerakan yang terjadi oleh akibat kontraksi otot yang bersagkutan dan
dapat bantuan dari luar. Apabila kerja otot tidak cukup kuat dari luar,
kekuatan tersebut harus diberikan sesuai dengan arah yang sesuai dengan kerja
otot.
3.2 Free Active Movement
Yaitu penderita bebas melakukan gerakan sendiri tanpa batuan, gerakan
yang dihasilkan adalah kontraksi otot dengan melawan gaya gravitasi.
3.3 Resisted Active Movement
Yaitu latihan aktif melawan tahanan manual atau beban yang diberikan
pada kerja otot untuk membentuk suatu gerakan dan dapat dilakukan sebagai
latihan penguatan.
- Penguluran
Streching terutama
dilakukan pada otot-otot yang melalui lebih dari 2 sendi, seperti : hamstring dan calf muscle. Streching dilakukan dengan teknik gentle passive
streching yaitu dengan pelan, berirama (ritmis), dan gerakan yang dilakukan
dengan lingkup gerak sendi penuh.
- Positioning
Perubahan dan
pengaturan posisi bagi penderita paraplegi.
- Bladder Training
Suatu bentuk latihan
pengosongan bladder (kandung kemih)
yang diatur sedemikian rupa sehingga akan tercapai suatu mekanisme pengosongan bladder yang optimal.
- Transfer Ambulasi
Latihan transfer ambulasi dilakukan secara bertahap, yaitu dari posisi
terlentang ke tidur miring, ke posisi duduk kemudian bertahap meningkat ke
berdiri dan latihan jalan. Latihan keseimbangan perlu dilakukan sebelum pasien
melakukan latihan berjalan. Dalam melakukan latihan berjalan, pasien
menggunakan walker.
No comments:
Post a Comment