|
BAB II
|
TINJAUAN
PUSTAKA
A.
Deskripsi
Kasus
1.
Definisi
Fraktur atau sering
disebut patah tulang adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang dan atau
tulang rawan yang penyebabnya dapat dikarenakan penaykit pengeroposan tulang
diantaranya penyakit yang sering disebut osteoporosis, biasanya dialami pada
usia dewasa. Dan dapat juga disebabkan karena kecelakaan yang tidak terduga.
Femur adalah tulang paha atau tungkai atas. Fraktur femur adalah patah tulang
yang mengenai tulang femur. Sepertiga medial adalah sebuah benda
yang dibagi menjadi tiga bagian yang sama, kemudian diambil tengah .
Jadi, fraktur femur
sepertiga medial adalah suatu patahan yang mengenai tulang paha (femur) pada
bagian tengah dari tulang (Mansjoer, 2000).
2.
Anatomi dan Fisiologi Fraktur Femur
Dalam hal ini penulis
akan membahas beberapa sistem yaitu:
a. Sistem Tulang
1) Os Femur
Femur adalah tulang
terkuat, terpanjang, dan terberat di tubuh. Tulang ini terdiri atas tiga
bagian, yaitu femoral shaft atau diafisis,
metafisis proximal, dan metafisis distal.
Femoral shaft adalah bagian tubular dengan slight
anterior bow yang terletak antara trochanter
minor hingga condylus femora. Ujung atas femur memiliki caput, collum, dan trochanter major dan minor. Bagian caput merupakan lebih kurang dua pertiga bola dan
berartikulasi dengan acetabulum dari os coxae membentuk articulatio coxae. Pada pusat caput terdapat lekukan kecil yang
disebut fovea capitis, yaitu tempat
perlekatan ligamen dari caput. Sebagian suplai darah untuk caput femoris dihantarkan sepanjang ligament ini dan memasuki
tulang pada fovea.
Trochanter major dan minor merupakan tonjolan besar pada
batas leher dan batang. Yang menghubungkan dua tronchanter ini adalah linea intertrochanterica di depan dan crista
intertrochanterica yang mencolok di bagian belakang, dan padanya terdapat tuberculum quadratum. Tepian medial
berlanjut ke bawah sebagai crista supracondylaris menuju tuberculum adductorum
pada condylus medialis. (Putz and
Pabts, 2000).
2) Os Patela
Patela adalah tulang
segitiga, terletak di bagian depan lutut sendi. Hal ini biasanya dianggap
sebagai os sesamoid, yag dikembangkan pada tendon dari femoris paha depan, dan
menyerupai tulang-tulang (1) dalam sedang dikembangkan di tendon, (2) di
tengahnya dari osifikasi menyajikan garis besar atau rumit tuberculated, (3)
dalam yang terutama terdiri dari jaringan cancellous padat. Ini berfungsi untuk
melindungi bagian depan sendi, dan meningkatkan leverage dari femoris paha
depan dengan membuatnya bertindak pada sudut yang lebih besar. Ini memiliki tiga anterior dan posterior permukaan
perbatasan, dan sebuah puncak.
3) Os Tibia
Tulang tibia terdiri
dari ujung proximal, corpus dan ujung distal. Ujung proximal tibia
melebar dan mempunyai tonjolan yaitu condilus
lateralis dan condilus medialis.
Pada corpus dalam irisan melintang
bentuknya segitiga. Sisi anteriornya menjulang dan sepertiga bagian tengah
terletak sub cutan. Bagian ini
membentuk crista tibia. Permukaan
posteriornya ditandai garis soleal atau linea
poplitea. Pada sebelah medial menjulang menjadi maleolus medial atau maleolus
tibia.
4) Os fibula
Tulang fibula merupakan tulang panjang dan
kecil terletak di sebelah lateral.
Tulang ini dibagi menjadi tiga bagian yaitu epiphisis
promaximalis, diaphisis dan epiphisis
distalis. Epiphisis proximalis
membulat disebut capitulum fibula untuk
bersendi dengan tibia. Pada corpus fibula terdapat empat buah crista yaitu (1) crista medialis,(2) crista
anterior, (3) crista lateral, (4)
crista inetrossea. Ujung distal berakhir sebagai maleolus lateralis yang lebih panjang
dari maleolus medialis (Putz and
Pabts, 2000).
b. Sistem Sendi
Sendi adalah hubungan
antara dua tulag atau lebih. Disini meliputi sendi panggul dan sendi lutut.
1) Hip joint
Persendian ini dibentuk
oleh acetabulum dan caput femoris. Persendian ini sangat
stabil dan multiaxial. Seluruh acetabulum
dilapisi cartilago hyaline, yang
bagian atasnya lebih tebal dari pada bagian bawah. Caput femur yang juga dilapisi hyalin
yang mana cartilago ini juga tebal di
bagian atasnya kemudian menipis di bagian tepi.
Persendian ini memiliki
kapsul sendi yang longgar dan dilingkupi oleh otot-otot yang besar dan kuat
serta diperkuat oleh ligamen-ligamen.
2) Knee joint
Sendi yang terbentuk
dari tulang-tulang uang berhubungan yaitu: (1) sendi tibio femoral,(2) sendi
patelo femorale, (3) sendi tibio
fibular.
1) Sendi tibio femoral
Sendi ini dibentuk oleh
condylus medialis dan lateralis femoralis dengan kedua condylus tibia sebagai facies articularisnya terdapat meniscus medialis dan lateralis. Sendi ini diperkuat oleh
ligamen antara lain, ligamen collaterale
lateralle, ligamen colateralle
mediale, ligamen cruciatum anterior
dan ligamen cruciatum posterior.
2) Sendi patelo femorale
Sendi ini dibentuk oleh
facies articularis dengan facies patellaris untuk bersendi dengan
tulang femur. Sendi ini diperkuat
dengan ligamen transfersum genus dan
otot vastus lateralis dan vastus medialis sehingga mempertahankan
patela tetap stabil.
3) Sendi tibio fibular
Sendi ini dibentuk oleh
facies articularis fibularis tibia dengan
articularis capituli fibulae, sendi ini termasuk sindenmosis. Sendi ini diperkuat oleh ligamen capitilare fibulae anterior dan posterior,
keduanya berasal dari condylus lateralis
tibia dan menuju fibulae.


Pandangan anterior Pandangan posterior
Gambar
2.1
Tulang femur kanan dilihat dari depan dan
belakang
(Putz and Pabst, 2000)
|
![]() |
Gambar
2.2
Otot-otot
tungkai atas dilihat dari depan
(Putz
and Pabst, 2000)
|

Gambar
2.3
Otot-otot
tungkai atas dilihat dari belakang
(Putz
and Pabst, 2000)
3. Biomekanik
a.
Gerakan Sendi Panggul
Osteokinematika gerakan
fleksi dan ekstensi adalah pada bidang sagital (S), lingkup Gerak Sendi (LGS)
pada gerakan fleksi sendi paggul 90o, apabila posisi lutut fleksi
penuh bias mencapai 120o. Sedangkan LGS panggul pada gerakan ekstensi
adalah 20o, jika dengan lutut fleksi maka akan menjadi lebih rendah
yaitu 10o. Hal ini disebabkan oleh karena kelompok hamstring
tereliminir sehingga kerja otot ekstensor tidak cukup kuat. Sedangkan
osteokinematika pada gerakan adduksi dan abduksi adalah pada bidang frontal
(F). LGS pada saat adduksi berkisar antara 15o sampai 20o,
sedangkan LGS pada saat abduksi adalah 45o. Untuk gerakan rotasi,
jika tidur tengkurap dan lutut fleksi 90o, maka LGS pada gerakan
medial rotasi berkisar 30o sampai 40o dan LGS pada saat
lateral rotasi adalah 60o. Jika duduk ditepi meja/bed dengan lutut
fleksi, maka LGS untuk medial rotasi adalah 30o, sedangkan LGS untuk
lateral rotasi adalah 60o.
Pada arthrokinematika
(tanpa menumpu berat badan), caput femur yang
berbentuk konvek slide ke arah acetubulum
yang berbentuk konkaf pada arah yang
berlawanan dari shaft femur. Pada
gerakan fleksi, caput femur slide ke
posterior dan inferior pada acetabulum, saat gerakan ekstensi, caput femur slide ke anterior dan
superior. Pada gerakan medial rotasi, caput femur slide ke posterior pada acetabulum. Pada gerakan lateral rotasi,
caput femur slide ke anterior. Pada
gerakan abduksi, caput femur slide ke
inferior. Pada gerakan adduksi, caput
femur slide ke superior.
b.
Gerakan Sendi Lutut
Gerakan yang terjadi
pada sendi lutut yang utama adalah fleksi dan ekstensi. Aksis gerak fleksi dan
ekstensi terletak di atas permukaan sendi yaitu melewati condylus femoris (Kapandji, 1987). Osteokinematika yang mungkin
terjadi adalah gerakan fleks dan ekstensi pada bidang sagital (S). LGS pada
gerakan fleksi sendi lutut berkisar 120o -130o, apabila
posisi panggul dengan fleksi penuh dapat
mencapai 140o. LGS pada gerakan ekstensi dapat berkisar
antara 5o -10o (hiperrekstensi) atau 0o (Kapandji,
1987). Sedagkan untuk gerak eksternal rotasi terjadi saat gerak fleks dengan
LGS antara 10-15o. Dan untuk gerak internal rotasi juga terjadi data
gerak fleksi dengan LGS 10o (Kapandji, 1987).
Pada permukaan articulatio femoralis lebih besar dari
pada articulatio tibialis, saat condylus femoralis bergerak pada condylus tibialis (pada keadaan menumpu
berat badan), condylus femoralis
harus rolling dan slide
untuk kembali pada tibia. Pada gerakan fleksi yang menumpu berat badan, condylus femoralis rolling ke posterior dan
slide ke anterior. Meniscus mengikuti
gerakan rolling dan condylus yang berlawanan kea rah
posterior pada gerakan fleksi. Pada gerakan ekstensi, condylus femoralis rolling ke anterior dan slide ke posterior
(Norkin, 1995).
Pada gerak aktif dengan
tidak menumpu berat badan, permukaan articulatio
tibialis yang konkaf slide pada condylus femoralis yang konvek
memberikan petunjuk yang sama pada gerakan shaft tibia. Condylus tibialis slide ke posterior pada condylus femoralis selama gerakan fleksi. Selama ekstensi dari full
fleksi, condylus tibialis slide ke anterior pada condylus femoralis.
4. Etiologi
Fraktur dapat terjadi akibat: (1) peristiwa trauma tunggal, (2) tekanan
yang berulang-ulang, (3) kelemahan abnormal pada tulang. Kekuatan tersebut
dapat berupa pemuntiran, penekukan, penekanan atau penarikan. Apley dan Solomon
(1995),
5. Patologi
Operasi diambil dari kata operation (kamus kedokteran) yang
berarti setiap tindakan yang dilakukan dengan alat atau dengan tangan seorang
ahli bedah. Hal itu berarti ada tindakan bedah yang menyebabkan terdapat luka
incisi. Akan terjadi kerusakan jaringan lunak di bawah kulit maupun pembuluh
darah yang akan diikuti keluarnya cairan limphe dan darah kemudian akan terjadi
reaksi radang sehingga menimbulkan oedem (bengkak). Bengkak akan menekan
nociceptor sehingga merangsang timbulnya nyeri. Nyeri akan menyebabkan pasien
enggan bergerak yang akan mengakibatkan luas gerak sendi menurun kemudian akan
diikuti penurunan kekuatan otot karena otot tidak digunakan dalam waktu yang lama
dan akhirnya menyebabkan penurunan aktifitas fungsional.
Waktu penyembuhan fraktur
sangat bervariasi dari satu individu ke individu lainnya. Faktor-faktor yang
mmpengaruhi proses penyambungan tulang yaitu fraktur adalah usia pasien,
banyaknya displacement fraktur, jenis fraktur, lokasi fraktur, pasokan darah
pada daerah fraktur, dan kondisi medis yang menyertai.
Proses penyambungan
tulang dibagi dalam lima tahap:
a. Hematoma
Hematoma adalah suatu
proses perdarahan dimana darah pada pembuluh darah tidak sampai pada jaringan
sehingga osteocyt mati, akibatnya terjadi necrose. Hematoma yang banyak
mengandung fibrin melindungi tulang yang rusak. Setelah 24 jam suplai darah ke
area fraktur mulai meningkat. Stadium ini berlangsung 1 sampai 3 hari.
b. Proliferasi
Proliferasi adalah
proses dimana jaringan seluler yag berisi cartilage keluar dari ujung-ujung
fragmen shingga tampak di beberapa tempat bentukan pulau-pulau cartilage. Pada
stadium ini terjadi pembentukan granulasi jaringan yang banyak mengandung
pembuluh darah, fibrolast dan osteoblast. Haematoma merupakan dasar
untuk proses penggantian dan penyembuhan tulang, yang berlangsung 3 hari sampai
2 minggu.
c. Pembentukann callus atau klasifikasi
Pembentukann
callus atau klasfikasi adalah proses dimana setelah terjadi bentukan cartilage
yang kemudian berkembang menjadi fibrous
callus sehingga tulang akan menjadi sedikit osteoporotik. Pembentukan ini terjadi setelah granulasi jaringan
menjadi matang. Jika stadium putus maka proses penyembuhan luka menjadi lama.
Fase ini berlangsung 2 sampai 6 minggu.
d. Konsolidasi
Konsolidasi adalah
suatu proses dimana terjadi penyatuan pada kedua ujung tulang. Callus yang tidak diperlukan mulai
diabsorbsi. (pada tahap ini tulag sudah kuat tapi masih berongga. Fase ini
biasanya butuh waktu 3minggu sampai 6 bulan.
e. Remodeling
Remodeling adalah
proses dimana tulag sudah terbentuk kembali atau tersambung dengan baik. Pada
tahp ini tulang semakin menguat secara perlahan-lahan terabsorbsi dan terbentuk
canalis medularis. Tahap ini
berlangsung selama 6 minggu sampai 1 tahun.
6.
Tanda
dan gejala
Tanda dan
gejala pada kondisi pasca operasi fraktur femur dextra 1/3 medial adalah: (1) adanya oedem karena
luka incisi pada tungkai atas dan lutut kanan sehingga menimbulkan nyeri, (2)
adanya keterbatasan lingkup gerak sendi lutut kanan, (3) adanya penurunan
kekuatan otot tungkai kanan, (4) adanya penurunan fungsional tungkai kanan
seperti berjalan.
7. Komplikasi
Komplikasi yang dapat terjadi ada tiga macam
yaitu komplikasi yang berhubungan dengan fraktur, komplikasi yang berhubungan
dengan tindakan operasi dan komplikasi yang berhubungan dengan immobilisasi.
Komplikasi yang berhubungan dengan fraktur yaitu:
a.
Infeksi
Infeksi biasanya terjadi pada fraktur terbuka karena
luka terkontaminasi oleh organisme yang masuk dari luar tubuh. Pada fraktur
tertutup dapat terjadi karena penolakan terhadap internal fiksasi yang dipasang
pada tubuh pasien (Adams, 1992).
b.
Delayed union
Delayed union adalah suatu kondisi dimana
terjadi penyambungan yang lambat yang disebabkan oleh adanya infeksi dan tidak
tercukupinya peredaran darah ke fragmen (Adams, 1992).
c.
Non union
Non union adalah fraktur tidak dapat sambung
selama proses penyambungan dalam waktu beberapa bulan (Adams, 1992).
d.
Avascular necrosis
Avascular
necrosis adalah nekrosis atau kerusakan tulang yang diakibatkan kurangnya
pasokan darah (Apley dan Solomon, 1995).
e.
Mal union
Mal union adalah penyambungan fragment pada
posisi yang tidak sempurna (Adams, 1992).
f.
Shortening
Shorthening disebabkan oleh mal union, loss
of bone, gangguan pada epiphyseal pada anak-anak. Shortening
merupakan pemendekan tulang yang diakibatkan oleh mal union dan gangguan
epiphyseal pada anak-anak (Apley dan Solomon, 1995).
8. Prognosis
Prognosis adalah ramalan mengenai berbagai aspek penyakit
(Hudaya, 2002). Prognosis pada pasca operasi open fraktur femur dextra
1/3 distal akan baik apabila terapi latihan diberikan secara tepat dan adekuat.
Prognosis itu meliputi aspek:
a.
Quo ad vitam
Quo ad vitam adalah mengenai hidup matinya
penderita, quo ad vitam dinyatakan baik apabila keadaan yang ditimbulkan
fraktur atau tindakan operasi tidak mengancam jiwa penderita. Pada kasus ini quo ad vitam baik karena segera mendapat
pertolongan dan tindakan operasi dilakukan dengan spinal anasthesi yang tidak
mempengaruhi sistem kardiovaskuler.
b.
Quo ad sanam
Quo ad sanam adalah mengenai kesembuhan
penderita, quo ad sanam dinyatakan baik apabila proses penyembuhan
fraktur tidak terjadi komplikasi. Pada kasus ini quo ad sanam baik karena
tidak terjadi komplikasi baik yang berhubungan dengan fraktur maupun injury.
c.
Quo ad fungsionam
Quo ad fungsionam adalah menyangkut fungsional
penderita, quo ad fungsionam dinyatakan baik apabila tidak
mengganggu fungsional penderita. Pada kasus ini fungsional penderita baik karena
pasien mampu melakukan aktivitas fungsional dengan tungkai karena mendapat
latihan transfer dan ambulasi.
d.
Quo ad cosmetican
Quo ad cosmetican adalah yang berhubungan
dengan kosmetika, quo ad cosmetican dinyatakan baik apabila tidak
mengganggu penampilan penderita. Pada kasus ini kosmetika pasien baik karena
pasien masih mampu berjalan dengan baik dan tidak mengganggu penampilan
walaupun dengan memakai kruk sebagai alat bantu jalan.
9. Permaalahan
Fisioterapi
Problematik fisioterapi pada kasus pasca operasi open fraktur femur dextra 1/3 medial dengan plate and screws meliputi impairment,
functional limitation, dan participation restriction. Problematik
yang termasuk impairment yaitu:
a.
Oedem
Oedem terjadi karena adanya peningkatan cairan
dari pembuluh darah. Cairan tersebut disebut dengan exudat dan kemudian
diikuti proses radang yang ditandai dengan peningkatan leukosit dan terjadi
peningkatan permeabilitas membran kapiler yang mengakibatkan plasma protein
(albumin, globulin dan fibrinogen) meninggalkan pembuluh darah dan memasuki
ruangan antar sel.
b.
Nyeri
Nyeri terjadi
karena adanya luka incisi sehingga terjadi kerusakan jaringan lunak di bawah
kulit maupun pembuluh darah yang akan diikuti keluarnya cairan limphe dan darah
kemudian akan terjadi reaksi radang sehingga menimbulkan oedem
(bengkak). Bengkak akan menekan nociceptor sehingga merangsang timbulnya nyeri.
c.
Keterbatasan lingkup gerak sendi
Keterbatasan
lingkup gerak sendi terjadi karena pasien enggan bergerak karena nyeri. Jika
kondisi ini dibiarkan dapat menimbulkan spasme yang akan menyebabkan gerakan
sendi menjadi terbatas.
d.
Penurunan kekuatan otot
Apabila otot tidak digunakan dalam waktu yang lama
maka akan terjadi penurunan kekuatan otot (disused muscle weakness).
Problematik yang muncul pada functional limitation
adalah keterbatasan pasien untuk melakukan aktifitas fungsional dengan tungkai,
misalnya: berjalan. Sedangkan problematik yang participation restriction
yaitu penderita tidak dapat bersosialisasi dengan optimal di lingkungan masyarakat
seperti bekerja sebagai petani, membantu orang yang punya kerja.
B. Teknologi
Intervensi Fisioterapi
Teknologi intervensi fisioterapi atau modalitas
fisioterapi yang digunakan untuk mengatasi problematik pada kasus pasca operasi
open fraktur femur dextra 1/3 distal dengan plate and
screws adalah terapi latihan. Terapi latihan adalah salah satu usaha
penyembuhan dalam fisioterapi yang dalam pelaksanaannya menggunakan gerakan
tubuh baik secara aktif maupun pasif (Priatna, 1985). Terapi latihan yang
diberikan antara lain kontraksi statik, latihan gerak aktif, latihan gerak
pasif dan hold relax.(kisner
dan Colby, 2007)
1.
Static contraction
Static contraction merupakan kontraksi otot
tanpa perubahan panjang otot atau tanpa gerakan sendi yang nyata. Tujuan static
contraction adalah untuk meningkatkan rileksasi otot dan sirkulasi darah
serta menurunkan nyeri setelah fraktur dalam proses penyembuhan. Pada kasus ini
static contraction ditujukan untuk
otot quadriceps. Latihan static contraction dilakukan
pada hari pertama dan kedua pasca operasi. Posisi pasien tidur terlentang,
posisi terapis berada di samping pasien. Terapis meletakkan tangannya di bawah lutut pasien, kemudian pasien diminta
menekan tangan terapis ke tempat tidur. Latihan ini dilakukan dengan penahanan 6-10 detik, fase istirahat 3-5
detik, kekuatan kontraksi min 40% dari kekutan kontraksi maksimal dengan 12
kali pengulangan, dilakukan 3-5 kali per hari.
2.
Passive exercise
Passive
exercise merupakan gerak
yang dihasilkan oleh kekuatan dari luar tanpa disertai kontraksi otot. Kekuatan
dari luar tersebut berupa gravitasi, mekanik, orang lain atau bagian lain dari
tubuh pasien itu sendiri. Passive exercise dapat menjaga elastisitas
otot sehingga dapat memelihara luas gerak sendi. Passive exercise dilakukan pada hari pertama sampai
dengan hari keenam pasca operasi. Pada hari pertama sampai hari ketiga latihan
dilakukan dengan posisi pasien tidur terlentang, terapis berada di samping
pasien. Terapis memfiksasi fragmen bagian distal dan satu tangan menyangga
tungkai bawah. Terapis
menggerakkan ke arah fleksi dan ekstensi. Untuk hari keempat sampai keenam
latihan dilakukan dengan posisi tengkurap. Gerakan ini dilakukan 5-10 kali
(Kisner dan Colby, 2007).
3.
Active exercise
Active
exercise merupakan gerak
yang dihasilkan oleh kontraksi otot itu sendiri. Active exercise dapat
memelihara luas gerak sendi dan meningkatkan kekuatan otot (Kisner dan Colby, 2007). Menurut Apley dan Solomon (1995) active exercise dapat memompa
keluarnya cairan oedem, merangsang sirkulasi, mencegah perlengketan
jaringan lunak dan membantu penyembuhan fraktur.
Teknik active exercise yang dilakukan yaitu:
a. Assisted active exercise
Assisted active exercise yaitu suatu gerakan
aktif dengan bantuan kekuatan dari luar, sedangkan pasien tetap
mengkontraksikan ototnya secara sadar. Bantuan dari luar dapat berupa tangan terapis, papan, maupun suspension.
Latihan ini dilakukan pada hari pertama sampai dengan hari ketiga pasca
operasi. Pada hari pertama posisi
pasien tidur terlentang, terapis berada di samping pasien pada sisi yang sakit.
Terapis memfiksasi fragmen bagian distal dan menyangga tungkai bawah. Pasien
diminta menekuk dan meluruskan lututnya sesuai kemampuan. Pada hari kedua dan
ketiga pasca operasi latihan ini dilakukan dengan posisi berbeda yaitu dengan
duduk ongkang-ongkang, satu tangan terapis memberi fiksasi di atas lutut dan
satu tangan yang lain menyangga tungkai bawah kemudian pasien diminta bergerak
menekuk dan meluruskan lututnya. Gerakan ini dilakukan 5-10 kali pengulangan
(Kisner dan Colby, 2007).
a. Free active exercise
Free
active exercise yaitu
suatu gerakan aktif yang dilakukan oleh adanya kekuatan otot dan anggota tubuh
itu sendiri tanpa bantuan, gerakan yang dihasilkan oleh kontraksi dengan
melawan pengaruh gravitasi. Latihan ini dilakukan pada hari ketiga sampai hari
keenam. Posisi pasien yaitu duduk ongkang-ongkang. Terapis berada di samping
pasien dan memberi fiksasi pada tungkai atas sedekat mungkin dengan lutut.
Kemudian pasien diminta untuk menekuk dan meluruskan lututnya. Gerakan ini
dilakukan 5-10 kali pengulangan (Kisner dan Colby, 2007).
b. Resisted active exercise
Resisted
active exercise yaitu
gerak aktif dengan tahanan dari luar terhadap gerakan yang dilakukan oleh
pasien. Tahanan dapat berasal dari terapis, pegas maupun dari pasien itu
sendiri. Salah satu cara untuk meningkatkan kekuatan otot adalah dengan
meningkatkan tahanan secara bertahap. Latihan ini dilakukan pada hari keempat
sampai hari keenam. Posisi pasien duduk ongkang-ongkang. Terapis berada di samping
pasien, satu tangan memfiksasi tungkai atas bagian distal sedekat mungkin
dengan lutut dan satu tangan memberi tahanan pada tungkai bawah. Pasien diminta
meluruskan lututnya kemudian terapis memberi tahanan ke arah fleksi,
selanjutnya pasien diminta untuk menekuk lututnya kemudian terapis memberi
tahanan ke arah ekstensi. Gerakan ini dilakukan 5-10 kali pengulangan (Kisner
dan Colby, 2007).
4. Hold
relax
Hold Relax merupakan
metode untuk memajukan atau mempercepat respon dari mekanisme neuromuscular melalui rangsangan pada
propioseptor. Dalam pelaksanaan teknik hold
relax sebelum otot antagonis dilakukan penguluran, otot antagonis
dikontraksikan secara isometris melawan tahanan dari terapis ke arah agonis
kemudian disusul dengan rileksasi dari otot tersebut. Hold relax bermanfaat untuk rileksasi otot-otot dan menambah LGS
serta dapat untuk mengurangi nyeri. (Kisner dan Colby, 2007).
Your Affiliate Money Making Machine is ready -
ReplyDeleteAnd making profit with it is as easy as 1---2---3!
Here is how it works...
STEP 1. Choose affiliate products the system will advertise
STEP 2. Add PUSH button traffic (this LITERALLY takes 2 minutes)
STEP 3. Watch the system explode your list and up-sell your affiliate products all on it's own!
Are you ready to make money automatically?
Click here to launch the system