GADOGADONEWS- Jum’at, awal perdagangan
di pasar spot nilai tukar rupiah terhadap dolar AS kembali keok. Rupiah
berada ada posisi paling lemah sejak tahun 1998, yaitu berada di angka 14.600.
Mata uang rupiah
ini anjlok tajam pada pukul 08.35 WIB.
Saat ini berada pada posisi Rp 14.647 per USD. Posisi ini lebih rendah dari
posisi sebelumnya, yaitu pada penutupan 14.552.
Pada level ini
merupakan posisi paling rendah sejak era krisis tahun 1998 yang lalu. Saat itu,
rupiah berada pada rekor paling lemah terhadap dolar AS yaitu di angka
16.650.
Tonny Mariano.
Seorang analis Esandar Arthamas Berjangka menilai merosotnya rupiah
akibat adanya spekulasi kenaikan fed fund rate yang baru mencuat.
The fed menyatakan
ada potensi bank sentral menaikkan suku bunga pada Oktober atau Desember nanti.
Hal ini mengakibatkan rupiah susah untuk bangkit dan terkapar. Bahkan di dalam negeri tidak ada tindakan nyata dari
pemerintah untuk mendorong rupiah dalam jangka pendek.
Josua Pardede, ekonom
Bank Permata menyatakan spekulasi The Fed menyebabkan pelaku pasar masih lebih
nyaman memegang dolar AS. Sehingga rupiah susah untuk merangkak naik.
Apalagi aksi jual
beli di bursa saham masih tinggi. Potensi rupiah untuk menguat sangat
terbuka jika data manufaktur China membaik. Josua memprediksi, hari ini rupiah
lesu di posisi Rp 14.400 – Rp 14.600.
Sedangkan kurs tengah
Bank Indonesia menyatakan posisi rupiah terhadap dolar pada level Rp
14.486. angka ini merupakan penurunan disbanding sebelumnya yaitu Rp 14.451.
Akibat jatuhnya nilai rupiah, jumlah PHK
makin membeludak. Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI)
menghitung sampai saat ini jumlah PHK mencapai 100.000 pekerja.
KSPI membagi jumlah PHK
menjadi tiga kelompok. Yaitu PHK dari perusahaan yang tertutup,
perusahaan yang sedang efisiensi, dan angka potensi PHK.
Perusahaan tutup
sehingga karyawan di PHK. Mengapa PHK semakin hari
semakin bertambah? Menurut Said, ada lima penyebab PHK terus bertambah.
Yaitu nilai tukar
rupiah terhadap dolar AS melemah. Daya beli masyarakat menurun karena
kenaikan harga BBM, pertumbuhan ekonomi gobal melambat sehingga produk ekspor
tidak laku, perekonomian melambat, biaya yang ditanggung pengusaha berat.
No comments:
Post a Comment