GADOGADONEWS


Kode Iklan Anda Disini

Thursday, 24 September 2015

Nilai Tukar Rupiah Terkapar




GADOGADONEWS- Jum’at, awal perdagangan di pasar spot nilai tukar rupiah terhadap dolar AS kembali keok. Rupiah berada ada posisi paling lemah sejak tahun 1998, yaitu berada di angka 14.600.
Mata uang rupiah ini anjlok tajam pada pukul 08.35 WIB. Saat ini berada pada posisi Rp 14.647 per USD. Posisi ini lebih rendah dari posisi sebelumnya, yaitu pada penutupan 14.552.
Pada level ini merupakan posisi paling rendah sejak era krisis tahun 1998 yang lalu. Saat itu, rupiah berada pada rekor paling lemah terhadap dolar AS yaitu di angka 16.650.
Tonny Mariano. Seorang analis Esandar Arthamas Berjangka menilai merosotnya rupiah akibat adanya spekulasi kenaikan fed fund rate yang baru mencuat.
The fed menyatakan ada potensi bank sentral menaikkan suku bunga pada Oktober atau Desember nanti.
Hal ini mengakibatkan rupiah susah untuk bangkit dan terkapar. Bahkan di dalam negeri tidak ada tindakan nyata dari pemerintah untuk mendorong rupiah dalam jangka pendek.
Josua Pardede, ekonom Bank Permata menyatakan spekulasi The Fed menyebabkan pelaku pasar masih lebih nyaman memegang dolar AS. Sehingga rupiah susah untuk merangkak naik.
Apalagi aksi jual beli di bursa saham masih tinggi. Potensi rupiah untuk menguat sangat terbuka jika data manufaktur China membaik. Josua memprediksi, hari ini rupiah lesu di posisi Rp 14.400 – Rp 14.600.
Sedangkan kurs tengah Bank Indonesia menyatakan posisi rupiah terhadap dolar pada level Rp 14.486. angka ini merupakan penurunan disbanding sebelumnya yaitu Rp 14.451.
Akibat jatuhnya nilai rupiah, jumlah PHK makin membeludak. Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) menghitung sampai saat ini jumlah PHK mencapai 100.000 pekerja.
KSPI membagi jumlah PHK menjadi tiga kelompok. Yaitu PHK dari perusahaan yang tertutup, perusahaan yang sedang efisiensi, dan angka potensi PHK.
Perusahaan tutup sehingga karyawan di PHK. Mengapa PHK semakin hari semakin bertambah? Menurut Said, ada lima penyebab PHK terus bertambah.
Yaitu nilai tukar rupiah terhadap dolar AS melemah. Daya beli masyarakat menurun karena kenaikan harga BBM, pertumbuhan ekonomi gobal melambat sehingga produk ekspor tidak laku, perekonomian melambat, biaya yang ditanggung pengusaha berat.

No comments:

Post a Comment