
PENATALAKSANAAN
STUDI KASUS
A. Pengkajian Fisioterapi
1. Pemeriksaan subjektif
a.
Anamnesis
Anamnesis adalah cara pengumpulan data tentang keadaan pasien dengan tanya jawab
antara terapis dengan sumber data. Dilihat dari segi pelaksanaannya anamnesis
ada 2 macam meliputi (1) autoanamnesis yaitu tanya jawab langsung dengan pasien, (2) heteroanamnesis yaitu tanya jawab dengan orang lain yang
dianggap mengetahui keadaan pasien
(Mardiman dkk, 2002). Dalam kasus ini terapis menggunakan autoanamnesis
yang dilakukan pada tanggal 04
Maret 2013, yang meliputi :
1)
Anamnesis umum
Informasi yang diperoleh dari anamnesis umum
adalah identitas diri pasien yang meliputi (1) nama : Tn. T R, (2) jenis
kelamin : laki-laki, (3) umur : 31 tahun, (4) pekerjaan : siswa BBRSBD
Surakarta, (5) alamat : Dk. Sinangoh, Ds. Prendeng, Kec. Kajen, Kab. Pekalongan,
dan (6) agama : Islam
|
2)
Anamnesis khusus
Anamnesis
khusus meliputi :
a)
Keluhan utama
Keluhan utama merupakan satu atau lebih keluhan yang mendorong seseorang
mencari pertolongan medik (Hudaya, 2002), pada kasus ini pasien mengeluh kedua
kaki pasien tidak bisa diluruskan, kedua kaki pasien lemah dan belum bias
berjalan.
b)
Riwayat penyakit sekarang
Riwayat penyakit sekarang memperinci informasi yang
didapat dari keluhan utama yaitu tentang riwayat perjalanan penyakit dan
riwayat pengobatan (Hudaya, 2002). Pada
kasus ini pasien merasakan nyeri pada kedua lututnya saat duduk
bersimpuh misalnya saat shalat,
lutut kanan lebih nyeri daripada lutut kiri, nyeri memberat satu bulan yang
lalu. Awal nyeri dirasakan sekitar satu tahun yang lalu pada lutut kirinya,
untuk lutut kanannya baru satu bulan yang lalu, nyeri hilang muncul. Nyeri
memberat saat jongkok berdiri, jalan lama dan naik turun tangga. Nyeri
berkurang jika diistirahatkan atau saat lutut tidak dalam menumpu beban. Saat
bangun pagi pasien merasa kedua lututnya kaku, kaku hilang setelah digerakkan
sekitar 15 menit. Penyakit ini belum
pernah diobatkan oleh pasien, pertama kali berobat pada tanggal 14 November 2007
di RSUP Dr. Kariadi Semarang, dengan mendapatkan penanganan fisioterapi berupa
MWD dan terapi latihan menggunakan EN-Tree, dilakukan seminggu tiga kali,
sampai tanggal 6 Desember 2007 sudah
dilakukan terapi sebanyak sepuluh kali.
c)
Riwayat penyakit dahulu
Riwayat penyakit dahulu adalah riwayat yang pernah diderita sebelumnya
(Hudaya, 2002). Dalam hal ini hubungannya dengan osteoarthritis sendi lutut misalnya riwayat trauma atau
gangguan/penyakit lain pada kedua lututnya. Pada kasus ini pasien tidak pernah mengalami riwayat trauma dan
gangguan/penyakit lain pada kedua lututnya.
d)
Riwayat penyakit penyerta
Riwayat penyakit penyerta berisi tentang berbagai macam
penyakit yang diderita pasien pada saat itu (Hudaya, 2002). Pada kasus ini, pasien mempunyai penyakit penyerta
yaitu hipertensi dan hiperkolesterol.
e)
Riwayat pribadi
Riwayat pribadi berisi tentang riwayat pribadi pasien
seperti aktivitas sehari – hari, hobi, keluarga dan lain – lain (Hudaya, 2002).
Pada kasus ini, pasien adalah seorang siswa di BBRSBD Surakarta, pasien mengambil
program keahlian elektronik, dan sehari-harinya mengikuti kegiatan yang berada
di lingkungan BBRSBD.
f)
Riwayat keluarga
Tidak ada keluarga pasien yang
mengalami penyakit serupa.
3)
Anamnesis sistem
Anamnesis sistem meliputi: (1) kepala & leher, tidak merasakan pusing maupun kaku leher,
(2) kardiovaskuler, tidak ada
keluhan dada berdebar – debar ataupun nyeri dada, (3) respirasi, tidak
ada keluhan sesak napas, (4) gastrointestinal, tidak ada keluhan susah buang air besar, (5) urogenitalis, buang air kecil terkontrol dan lancar,
(6) muskuloskeletal, terdapat spasme otot pada kedua tungkai, serta
pemendekan otot pada m.gastroc nemeus dan m.hamstring pada kedua tungkai, rasa kaku dirasakan pada kedua lutut dan
lutut sulit untuk diluruskan, (7) nervorum, tidak ada kesemutan maupun nyeri menjalar pada
kedua tungkai.
2. Pemeriksaan objektif
a.
Pemeriksaan umum
1)
Tanda-tanda vital
Dari
pemeriksaan tanda-tanda vital diperoleh: (1) tekanan darah: 130/ 80 mmHg, (2)
denyut nadi: 78 kali/ menit, (3) pernapasan: 18 kali/ menit, (4) temperatur: 360
C, (5) tinggi badan: 163 cm, (6) berat badan: 69 kg.
2)
Inspeksi
Inspeksi
merupakan suatu cara pemeriksaan dengan cara melihat dan mengamati kondisi
pasien (Mardiman, 2002). Inspeksi dilakukan mulai dari pasien datang, pada
kasus ini pasien datang menggunakan kursi roda dan terlihat kedua lutut ditekuk.
Pemeriksaan ini dilakukan dalam dua cara yaitu inspeksi secara statis dan
dinamis. Inspeksi statis, dilakukan pada posisi pasien tidur terlentang, hasil
yang didapatkan adalah, posisi tidur pasien terlihat terdapat deformitas kedua
knee kearah semi fleksi, inspeksi dinamis, dilakukan pada saat pasien berpindah
dari kursi roda ke bed hasil yang
didapatkan yaitu kedua kaki pasien tidak mampu menahan berat badannya dan saat
berpidah tempat tumpuan cenderung menggunakan kedua tangan. Saat beraktivitas
sehari-hari pasien menggunakan alat bantu kursi roda.
3)
Palpasi
Pemeriksaan ini dilakukan dengan
cara meraba, menekan dan memegang bagian tubuh pasien yang mengalami gangguan
(Mardiman dkk, 2002). Palpasi diperoleh spasme pada kedua tungkai, suhu tubuh
normal.
4)
Gerak dasar
a)
Pemeriksaan gerak aktif
Pemeriksaan gerak aktif didapatkan hasil yaitu pada gerak fleksi baik
lutut kanan maupun kiri LGS normal, pada gerak ekstensi baik lutut kanan maupun
kiri LGS terbatas.
b)
Pemeriksaan gerak pasif
Pada pemeriksaan gerak pasif didapatkan hasil berupa, pada gerak fleksi baik
lutut kanan maupun kiri LGS normal, dan end
feel pada kedua lutut soft untuk
gerak ekstensi kedua lutut terbatas dan end
feel hard.
c)
Pemeriksaan gerak isometrik melawan tahanan
Pemeriksaan gerak isometrik melawan tahanan dilakukan untuk provokasi nyeri
dan untuk mengetahui kekuatan otot (Mardiman dkk,2002). Pada kasus ini pasien
tidak merasakan nyeri saat gerak isometrik melawan tahanan manual pada kedua
tungkai bawah yang diberikan oleh terapis.
5)
Pemeriksaan kognitif, interpersonal dan intrapersonal
Kognitif
adalah pengetahuan yang mengaitkan perilaku manusia dengan susunan saraf otak.
Kognitif meliputi kemampuan atensi, kosentrasi, memori, orientasi ruang dan
waktu. Intrapersonal adalah kemampuan dalam memahami diri dan keadaannya,
sedangkan interpersonal adalah kemampuan bagaimana berhubungan dengan orang
lain (Mardiman dkk, 2002). Pada kasus ini, pemeriksaan kognitif didapati hasil
yaitu atensi dan memori pasien bagus, selain itu pasien mampu mamahami dan
mengikuti instruksi terapis dengan baik. Pemeriksaan interpersonal didapati
hasil berupa adanya motivasi yang tinggi dari pasien untuk sembuh. Pemeriksaan
intrapersonal didapati hasil yaitu pasien dapat berkomunikasi dan bekerja sama
dengan terapis.
6) Pemeriksaan fungsional dan lingkungan aktivitas
a)
Fungsional dasar
Pemeriksaan fungsional dasar diperoleh data berupa pasien mampu berdiri
dari posisi duduk tetapi masih terdapat nyeri.
b)
Fungsional aktifitas
Kemampuan fungsional aktifitas meliputi pasien mengalami kesulitan saat
shalat terutama saat duduk bersimpuh. Pasien masih mampu naik-turun tangga
tanpa alat bantu meskipun masih dirasakan adanya nyeri.
c)
Lingkungan aktifitas
Lingkungan rumah pasien tidak
ada tangga dan menggunkan WC duduk.
b.
Pemeriksaan khusus
Pemeriksaan khusus adalah pemeriksaan yang dilakukan
untuk memperoleh informasi yang lebih lengkap yang belum tercakup dalam
pemeriksan fungsi dasar.
Pemeriksaan khusus yang dapat dilakukan meliputi :
1)
Pemeriksaan derajat nyeri
Pemeriksaan derajat nyeri menggunakan Verbal
Descriptive Scale (VDS) yaitu pengukuran nyeri dengan tujuh skala panilaian
yaitu (1) nilai 1 = tidak nyeri, (2) nilai
2 = nyeri sangat ringan, (3) nilai 3 =
nyeri ringan, (4) nilai 4 = nyeri tidak begitu berat, (5) nilai 5 = nyeri cukup
berat, (6) nilai 6 = nyeri berat, (7) nilai 7 = nyeri hampir tak tertahankan
(Parjoto, 2000).
Pemeriksaan nyeri dengan menggunakan VDS pada
lutut kiri dan kanan diperoleh hasil sesuai tabel 3.1.
TABEL 3.1
HASIL PENGUKURAN
DERAJAD NYERI PADA LUTUT KANAN DAN KIRI MENGGUNAKAN VDS
Nyeri
|
Lutut
kiri
|
Lutut
kanan
|
Keterangan
|
Nyeri Diam
|
1
|
1
|
Posisi terlentang
|
Nyeri Gerak
|
3
|
4
|
Saat fleksi lutut
|
Nyeri Tekan
|
1
|
1
|
Pada medial /lateral lutut
|
2)
Pemeriksaan LGS lutut
Pemeriksaan LGS lutut
dilakukan dengan goniometer. Tujuan pemeriksaan LGS untuk mengetahui ada
tidaknya keterbatasan baik pada gerak aktif maupun gerak pasif dari sendi lutut
(Parjoto, 2000). Menurut International of Standard Orthopaedic Messurement
(ISOM), LGS lutut normal pada gerak aktif adalah S : 0-0-130. Pengukuran LGS lutut dengan goniometer yaitu aksis pada epicondylus lateralis
femur, lengan statis sejajar pada lateral paha dan lengan dinamis sejajar pada
lateral betis pasien. Gerak fleksi diukur pada posisi tidur tengkurap dan pada
gerak ekstensi diukur pada posisi tidur terlentang.
Hasil pemeriksaan LGS pda
kedua lutut dapat dilihat pada tabel 3. 2.
TABEL 3.2
HASIL PENGUKURAN LGS LUTUT KANAN DAN KIRI
LGS
|
Lutut
kiri
|
Lutut
kanan
|
Aktif
|
S
0 -0- 115
|
S
0 – 0- 110
|
Pasif
|
S
0 – 0 -125
|
S
0 – 0 - 115
|
3) Pemeriksaan kekuatan otot penggerak sendi
lutut
Pemeriksaan kekuatan otot dapat dilakukan dengan
menggunakan manual muscle testing (MMT), kriteria penilaiannya dapat dilihat pada table
3.3.
TABEL
3.3
KRITERIA PENILAIAN KEKUATAN OTOT
Nilai
|
Keterangan
|
5
|
Subjek bergerak dengan LGS penuh, melawan
gravitasi, melawan tahanan maksimal.
|
4+
|
Subjek bergerak dengan LGS penuh, melawan
gravitasi, melawan tahanan hampir maksimal.
|
4
|
Subjek bergerak dengan LGS penuh, melawan
gravitasi, melawan tahanan sedang.
|
4-
|
Subjek bergerak dengan LGS penuh, melawan
gravitasi, melawan tahanan minimal.
|
3+
|
Subjek bergerak dengan LGS hampir penuh, melawan
gravitasi, melawan tahanan minimal.
|
3
|
Subjek bergerak dengan LGS penuh, melawan
gravitasi.
|
3-
|
Subjek bergerak melawan gravitasi dengan LGS
lebih dari middle range.
|
2+
|
Subjek bergerak melawan gravitasi dengan LGS
kurang dari middle range.
|
2
|
Subjek bergerak dengan LGS penuh, tanpa melawan
gravitasi.
|
2-
|
Subjek bergerak dengan LGS tidak penuh, tanpa
melawan gravitasi.
|
1
|
Kontraksi otot dapat dipalpasi tanpa menimbulkan
gerak.
|
0
|
Kontraksi otot tidak terdeteksi dengan palpasi.
|
Sumber: Worthingham, 1980 dikutip oleh Mardiman
dkk, 2002
Hasil pemeriksaan yang diperoleh dapat dilihat
pada table 3.4.
TABEL 3.4
HASIL PEMERIKSAAN
KEKUATAN OTOT PENGGERAK LUTUT KANAN DAN KIRI
Grup
otot
|
Lutut
kanan
|
Lutut
kiri
|
Fleksor
|
4
|
4
|
Ekstensor
|
4
-
|
4
|
4)
Antropometri
Antropometri adalah cara pengukuran lingkar segmen tubuh dengan
menggunakan pita ukur untuk mengetahui ada tidaknya pembengkakan atau
pengecilan, dalam hal ini yang diukur adalah lingkar lutut (Parjoto, 2000). Caranya dengan menetukan titik-titik
patokan pada tempat yang akan diukur dengan jarak yang sama, minimal 3 titik
(Lesmana, 2002), misal 5 cm atau 10 cm dari tuberositas
tibia, kemudian terapis mengukur segmen yang telah diberi patokan.
Hasil pemeriksaan antropometri
dapat dilihat pada table 3.5.
TABEL 3.5
HASIL PEMERIKSAAN ANTROPOMETRI PADA LUTUT KANAN DAN KIRI
Titik
Patokan Tuberositas tibia
|
Kanan
|
Kiri
|
15 cm ke proksimal
|
39
cm
|
39,5
cm
|
10 cm ke proksimal
|
38
cm
|
38,5
cm
|
5 cm ke proksimal
|
35,5
cm
|
36cm
|
5)
Pemeriksaan stabilitas sendi lutut
Osteoarthritis sendi lutut terjadi
kerusakan pada kartilago, sehingga kerja otot dan ligament yang berfungsi untuk
menjaga kestabilan sendi lutut semakin berat, apabila hal ini dibiarkan secara
terus-menerus dan dalam jangka waktu yang lama, maka akan terjadi kelemahan otot
dan kendornya ligament sehingga sendi lutut menjadi tidak stabil (de Wolf and
Mens, 1994). Pemeriksaan stabilitas sendi lutut. meliputi :
a)
Tes laci sorong
Tes laci sorong ini digunakan untuk mengetahui adanya
hipermobilitas dan untuk mengetahui stabilitas ligamentum cruciatum
posterior (bila tarikan ke arah posterior) (de Wolf and Mens, 1994). Posisi pasien terlentang dengan fleksi
lutut 45 0 dan stabilisasi kaki, ditujukan untuk ligamentum
cruciatum anterior dan ligamentum cruciatum posterior. Terapis mendorong tungkai
bawah untuk ligamentum cruciatum posterior dan menarik tungkai bawah
untuk ligamentum cruciatum anterior. Hasil dari tes laci sorong pada
lutut kanan maupun kiri adalah negatif
karena tidak ada hipermobilitas ke arah depan maupun belakang.



Gambar 3.1
Tes laci sorong
b)
Tes hiperekstensi
Tes hiperekstensi dilakukan untuk mengetahui penambahan
sudut ekstensi pada sendi lutut karena
adanya lesi atau kendor pada ligamentum cruciatum anterior dan ligamentum cruciatum posterior (de
Wolf and Mens, 1994). Cara pemeriksaannya adalah pasien berbaring terlentang dengan
kedua tungkai lurus, tungkai bawah ditarik ke atas/ke arah ekstensi dengan
pegangan pada pergelangan kaki, fiksasi pada atas lutut. Hasil dari tes hiperekstensi pada lutut kanan
maupun kiri adalah negatif karena
tungkai bawah tidak mampu ditarik ke atas/ke arah ekstensi.



Gambar 3.2
Tes Hiperekstensi
c)
Tes hipermobilitas valgus
Tes hipermobilitas valgus untuk mengetahui cidera ligamentum
collateral mediale. Caranya pasien berbaring dengan tungkai yang akan
diperiksa berada disamping luar bed, diposisikan fleksi lutut 300 ,
salah satu tangan terapis berada di sisi lateral lutut sebagai fiksasi dan
tangan yang lain berada di sebelah dalam pergelangan kaki untuk memberi tekanan
ke arah luar (valgus) (de Wolf and
Mens, 1994). Hasil dari tes hipermobilitas valgus pada kedua lutut adalah negatif karena tidak ada gerak hipermobilitas ke arah valgus.


Gambar 3. 3
Tes hipermobilitas valgus
d)
Tes hipermobilitas varus
Tes hipermobilitas varus untuk mengetahui cidera ligamentum
collateral lateral. Caranya, pasien berbaring dengan tungkai yang akan
diperiksa berada di samping luar bed, diposisikan fleksi lutut 300,
salah satu tangan terapis berada di sisi medial lutut sebagai fiksasi dan tangan yang lain berada
di sebelah luar pergelangan kaki untuk memberi tekanan ke arah dalam (varus) (de Wolf and Mens, 1994). Hasil dari tes hipermobilitas varus pada lutut kiri adalah negatif karena tidak ada gerak hipermobilitas
ke arah varus, pada lutut kanan
hasilnya positif karena adanya hipermobilitas ke arah varus.


Gambar 3. 4
Tes hipermobilitas varus
6) Pemeriksaan akumulasi cairan pada sendi lutut
a)
Tes ballottement
Tes ballottement mengetahui apakah
ada cairan di dalam lutut. Caranya yaitu pasien tidur terlentang kemudian ressesus
supra patelaris di kosongkan dengan menekan
satu tangan dan sementara jari
tangan lain menekan patella ke
bawah. Dalam keadaan normal patella
tidak dapat ditekan ke bawah karena sudah terletak di atas kedua condylus dari femur (de Wolf and Mens, 1994). Hasil pemeriksaan ini adalah
negatif karena patella pada kedua lutut tidak
dapat ditekan ke bawah.




Gambar 3. 5
Tes ballottement
7) Pemeriksaan kemampuan fungsional dengan
skala jette.
Hal-hal yang dinilai dalam pemeriksaan status
fungsional jette meliputi (1) berdiri dari posisi duduk, (2) berjalan 15 meter
dan (3) naik tangga 3 trap.
Penilaian skala jette tercatum dalam
tabel 3.6.
TABEL
3.6
SKALA
JETTE
Bentuk aktivitas
|
Kemampuan
beraktivitas
|
Nilai
|
1.
Berdiri dari posisi duduk
|
Nyeri
Kesulitan
Ketergantungan
|
1 = tidak nyeri
2 = nyeri ringan
3 = nyeri sedang
4 = sangat nyeri
1 = sangat mudah
2 = agak mudah
3 = tidak mudah/ tidak sulit
4 = agak sulit
5 = sangat sulit
1 = tanpa bantuan
2 = butuh bantuan dengan alat
3 = butuh bantuan orang
4 = butuh bantuan orang dan alat
5 = tidak dapat melakukan
|
2.
Berjalan 15 meter
|
Sama
dengan atas
|
Sama
dengan atas
|
3.
Naik tangga 3 trap
|
Sama
dengan atas
|
Sama
dengan atas
|
Sumber : Fisher, Jette AM, 1980 dikutip
oleh Parjoto, 2000.
Hasil pemeriksaan aktivitas fungsional
dapat dilihat pada tabel 3.7.
TABEL 3.7
HASIL PEMERIKSAAN AKTIFITAS FUNGSIONAL MENGGUNAKAN SKALA JETTE
Indeks fungsional jette
|
Lutut kanan
|
Lutut kiri
|
1.
Berdiri dari posisi
duduk
·
Nyeri
·
Kesulitan
·
Ketergantungan
|
3
3
1
|
2
2
1
|
2.
Berjalan 15 meter
·
Nyeri
·
Kesulitan
·
Ketergantungan
|
3
3
1
|
2
3
1
|
3.
Naik turun tangga 3 trap
·
Nyeri
·
Kesulitan
·
Ketergantungan
|
4
4
1
|
3
4
1
|
c.
Pemeriksaan penunjang
1)
Pemeriksaan hasil foto rontgen
Pemeriksaan hasil foto rontgen membantu menegakkan diagnosis pada osteoarthritis. Foto rontgen lutut sinistra pada tanggal 14
November 2007 didapatkan kesan OA lutut grade II, yaitu (1) adanya osteofit
pada condylus lateral os femur, os tibia
sinistra dan os patela sinistra, (2)
belum tampak penyempitan celah sendi, (3) belum tampak kista maupun sklerotik
subkondral.
B. Pelaksanaan Terapi
1. Tujuan
Tujuan
fisioterapi dalam melakukan tindakan terapi pada kasus OA sendi lutut yaitu (1)
mengurangi nyeri, (2) meningkatkan LGS, (3) meningkatkan kekuatan otot, (4)
meningkatkan aktifitas fungsional.
2. Modalitas fisoterapi
Modalitas fisioterapi yang digunakan pada kasus OA sendi lutut ini adalah
MWD dan terapi latihan.
3. Pelaksanaan fisioterapi
a. Microwive diathermy
1)
Persiapan alat
Sebelum pengobatan dimulai
terlebih dahulu pastikan bahwa alat berfungsi dengan baik. Hubungkan alat
dengan sumber arus. Pilih emiter dan
pasang pada lengan emiter. Alat
dihidupkan kemudian alat dipanaskan selama 5 menit, intensitas pada posisi nol
(steady switch) (Sujono, 2001).
2)
Persiapan pasien
Posisi pasien tidur terlentang di bed
dan diberi penyangga di bawah lutut supaya rileks dan bagian yang
diobati tidak berubah. Terlebih dahulu pasien diberi penjelasan tentang tujuan
terapi dan mengenai panas yang dirasakan yaitu rasa hangat. Kemudian dilakukan
tes panas dingin untuk mengetahui apakah pasien mengalami gangguan sensibilitas
atau tidak, Dari hasil pemeriksaan sensibilitas pasien tidak mengalami gangguan
sensibilitas Daerah yang diobati bebas dari pakaian (Sujono, 2001).
3) Pelaksanaan
terapi
Setelah persiapan selesai, terapi
dapat dimulai. Emiter diatur agar
posisinya tegak lurus dengan daerah yang diterapi yaitu bagian anterior daerah
yang diterapi. Jarak emiter dengan
daerah yang diterapi yaitu bagian anterior lutut kurang lebih 10 cm (Low, 2000).
Waktu yang digunakan 15 menit. Menggunakan arus continous dengan
intensitas normalis atau rasa hangat menurut pasien (Wadsworth, 1983). Frekwensi
terapi dilakukan senyak 3
kali dalam satu minggu.

Gambar 3.6
Pemasangan MWD pada OA sendi lutut bilateral
b.
Terapi latihan
1)
Hold relax yang dimodifikasi
a) Persiapan pasien
Pasien diposisikan
tidur tengkurap di atas bed.
b) Pelaksanaan terapi
Terapis berada di sebelah tungkai yang akan
dilatih, gerakan tersebut aktif atau pasif ke arah agonis sampai batas nyeri. Terapis memberi tahanan di bagian distal
sendi lutut yang bergerak dengan arah
berlawanan dari gerakan pasien. Kemudian pasien diminta mengkontraksikan
kelompok antagonis tersebut tanpa terjadi gerakan atau kontraksi isometrik,
dengan aba – aba “pertahankan disini…tahan…tahan…”. Selama 7 hitungan, kemudian
dilanjutkan rileksasi, pasien benar-benar rilek kemudian terapis melakukan
penguluran ke arah fleksi lutut. Gerakan ini dilakukan pengulangan 6-8
kali (Kisner and Colby, 1996).





Gambar 3.7
Pelaksanaan hold relax
2)
Free active movement
a)
Persiapan pasien
Pasien
diposisikan duduk ongkang – ongkang di tepi bed atau bersandar pada kursi.
b)
Pelaksanaan
terapi
Terapis menginstruksikan kepada pasien untuk menekuk dan meluruskan salah
satu lututnya secara bergantian dengan lutut satunya, terapis memberikan
fiksasi pada bagian atas lutut pasien. Gerakan diulang hingga 5-10 kali untuk masing-masing
lutut (Kisner and Colby, 1996).


Gambar 3.8
Pelaksanaan Free active movement
3)
Ressisted active movement
a) Persiapan pasien
Pasien diposisikan duduk ongkang – ongkang di EN-Tree.
b) Persiapan alat
Sebelum latihan dimulai dilakukan pengaturan berat
beban dengan metode holten, dalam latihan ini dengan beban 5 kg pasien mampu
melakuan gerakan fleksi ekstensi lutut sebanyak 12 kali untuk lutut kiri dan 6
kali untuk lutut kanan.












Diagram 3.1
Holten ( Traffas, 2008)
Rumus 1 RM = A Kg
X 100% / B %. A Kg = perkiraan beban yang diberikan, B % = jumlah
pengulangan dalam % (Traffas, 2008).
Pada
kasus ini didapatkan hasil yaitu (1) lutut kiri, 1RM = 5 Kg x 100% / 80 % = 6,02 Kg =
6 Kg, (2) lutut kanan, 1RM = 5 Kg x 100% / 85 % = 5,8Kg =
6 Kg
Dosis latihan untuk lutut kiri maupun kanan
menggunakan metode holten untuk meningkatkan endurance, dengan intensitas 30-65 % dari 1RM. Pada kasus ini
penulis menggunakan intensitas 50% dari 1 RM, sehingga beban yang digunakan yaitu
50 % x 6 Kg = 3 Kg, repitisi = 20 kali, istirahat = 30 detik untuk setiap pergantian seri dan dilakukan sebanyak 3 seri.

Gambar 3.9
EN-Tree
c)
Pelaksanaan terapi
Terapis berada di samping pasien, kemudian mengatur posisi pasien di alat
tersebut, kemudian pasien diminta menggerakkan sendi lututnya ke arah fleksi 90ْ dan full ekstensi
sebanyak dosis yang telah ditentukan.




Gambar 3.10
Pelaksanaan ressisted active movement
C.
Evaluasi Hasil Terapi
Tujuan evaluasi adalah
untuk mengetahui tingkat keberhasilan yang diharapkan, menentukan perlu
tidaknya modifikasi mengenai modalitas dan
intervensi terapi. Untuk
evaluasi nyeri dengan skala VDS, kekuatan otot dengan MMT, LGS
dengan goniometer dan evaluasi kemampuan fungsional dasar dengan skala jette.
Kondisi OA sendi lutut
bilateral dengan penatalaksanaan fisioterapi menggunakan microwave diathermy
dan terapi latihan didapatkan hasil evaluasi seperti yang terlihat dalam tabel 3.8
dan 3.9.
No
|
Data
|
T1
6-12-07
|
T2
10-12-07
|
T3
12-12-07
|
T4
14-12-07
|
T5
17-12-07
|
T6
19-12-07
|
1.
|
Nyeri
·
Nyeri diam
·
Nyeri tekan
·
Nyeri gerak
|
1
1
3
|
1
1
3
|
1
1
3
|
1
1
2
|
1
1
2
|
1
1
2
|
2.
|
LGS
·
Aktif
·
Pasif
|
S 0 – 0 -115
S 0 – 0 -125
|
S 0 – 0 -115
S 0 – 0 -125
|
S 0 – 0 -115
S 0 – 0 -125
|
S 0 – 0 -120
S 0 – 0 -130
|
S 0 – 0 -120
S 0 – 0 -130
|
S 0 – 0 -120
S 0 – 0 -130
|
3.
|
Kekuatan otot
·
Flexor
·
Ekstensor
|
4
4
|
4
4
|
4
4
|
4
4+
|
4
4+
|
4
4+
|
4.
|
Aktivitas fungsional
Berdiri dari posisi duduk
·
Nyeri
·
Kesulitan
·
ketergantungan
Berjalan 15 m
·
Nyeri
·
Kesulitan
·
Ketergantungan
Naik turun tangga 3 trap
·
Nyeri
·
Kesulitan
·
ketergantungan
|
2
2
1
2
3
1
3
4
1
|
2
2
1
2
3
1
3
4
1
|
2
2
1
2
3
1
3
4
1
|
2
2
1
2
3
1
2
4
1
|
2
2
1
2
3
1
2
4
1
|
2
2
1
2
3
1
2
4
1
|
TABEL 3.8
HASIL EVALUASI TERAPI PADA LUTUT KIRI
TABEL 3.9
No
|
Data
|
T1
6-12-07
|
T2
10-12-07
|
T3
12-12-07
|
T4
14-12-07
|
T5
17-12-07
|
T6
19-12-07
|
1.
|
Nyeri
·
Nyeri diam
·
Nyeri tekan
·
Nyeri gerak
|
1
1
4
|
1
1
4
|
1
1
3
|
1
1
3
|
1
1
3
|
1
1
3
|
2.
|
LGS
·
Aktif
·
Pasif
|
S 0 – 0 -110
S 0 – 0 -115
|
S 0 – 0 -110
S 0 – 0 -115
|
S 0 – 0 -115
S 0 – 0 -120
|
S 0 – 0 -115
S 0 – 0 -120
|
S 0 – 0 -115
S 0 – 0 -125
|
S 0 – 0 -115
S 0 – 0 -125
|
3.
|
Kekuatan otot
·
Flexor
·
Ekstensor
|
4
4-
|
4
4-
|
4
4-
|
4
4
|
4
4
|
4
4
|
4.
|
Aktivitas fungsional
Berdiri dari posisi duduk
·
Nyeri
·
Kesulitan
·
ketergantungan
Berjalan 15 m
·
Nyeri
·
Kesulitan
·
ketergantungan
Naik turun tangga 3 trap
·
Nyeri
·
Kesulitan
·
ketergantungan
|
3
3
1
3
3
1
4
4
1
|
3
3
1
3
3
1
4
4
1
|
2
3
1
3
3
1
4
4
1
|
2
3
1
3
3
1
4
4
1
|
2
3
1
3
3
1
4
4
1
|
2
3
1
3
3
1
4
4
1
|
HASIL EVALUASI TERAPI PADA LUTUT KANAN