GADOGADONEWS


Kode Iklan Anda Disini

Tuesday, 4 March 2014

KTI FISIOTERAPI CONTRACTURE


BAB III
PENATALAKSANAAN STUDI KASUS

A.    Pengkajian Fisioterapi

1.      Pemeriksaan subjektif
a.       Anamnesis

Anamnesis adalah cara pengumpulan data  tentang keadaan pasien dengan tanya jawab antara terapis dengan sumber data. Dilihat dari segi pelaksanaannya anamnesis ada 2 macam meliputi (1) autoanamnesis yaitu tanya jawab langsung dengan pasien, (2) heteroanamnesis yaitu tanya jawab dengan orang lain yang dianggap mengetahui keadaan pasien  (Mardiman dkk, 2002). Dalam kasus ini terapis menggunakan autoanamnesis yang dilakukan pada tanggal 04 Maret 2013, yang meliputi :

1)      Anamnesis umum

Informasi yang diperoleh dari anamnesis umum adalah identitas diri pasien yang meliputi (1) nama : Tn. T R, (2) jenis kelamin : laki-laki, (3) umur : 31 tahun, (4) pekerjaan : siswa BBRSBD Surakarta, (5) alamat : Dk. Sinangoh, Ds. Prendeng, Kec. Kajen, Kab. Pekalongan, dan  (6) agama : Islam




30
 
 
2)      Anamnesis khusus

      Anamnesis khusus  meliputi :

a)      Keluhan utama

Keluhan utama merupakan satu atau lebih keluhan yang mendorong seseorang mencari pertolongan medik (Hudaya, 2002), pada kasus ini pasien mengeluh kedua kaki pasien tidak bisa diluruskan, kedua kaki pasien lemah dan belum bias berjalan.

b)      Riwayat penyakit sekarang

Riwayat penyakit sekarang memperinci informasi yang didapat dari keluhan utama yaitu tentang riwayat perjalanan penyakit dan riwayat pengobatan (Hudaya, 2002). Pada kasus ini pasien merasakan nyeri pada kedua lututnya saat duduk bersimpuh misalnya saat shalat, lutut kanan lebih nyeri daripada lutut kiri, nyeri memberat satu bulan yang lalu. Awal nyeri dirasakan sekitar satu tahun yang lalu pada lutut kirinya, untuk lutut kanannya baru satu bulan yang lalu, nyeri hilang muncul. Nyeri memberat saat jongkok berdiri, jalan lama dan naik turun tangga. Nyeri berkurang jika diistirahatkan atau saat lutut tidak dalam menumpu beban. Saat bangun pagi pasien merasa kedua lututnya kaku, kaku hilang setelah digerakkan sekitar 15 menit. Penyakit ini  belum pernah diobatkan oleh pasien, pertama kali berobat pada tanggal 14 November 2007 di RSUP Dr. Kariadi Semarang, dengan mendapatkan penanganan fisioterapi berupa MWD dan terapi latihan menggunakan EN-Tree, dilakukan seminggu tiga kali, sampai tanggal 6 Desember 2007 sudah dilakukan terapi sebanyak sepuluh kali.
c)      Riwayat penyakit dahulu

Riwayat penyakit dahulu adalah riwayat yang pernah diderita sebelumnya (Hudaya, 2002). Dalam hal ini hubungannya dengan osteoarthritis sendi lutut misalnya riwayat trauma atau gangguan/penyakit lain pada kedua lututnya. Pada kasus ini pasien tidak pernah mengalami riwayat trauma dan gangguan/penyakit lain pada kedua lututnya.

d)     Riwayat penyakit penyerta

Riwayat penyakit penyerta berisi tentang berbagai macam penyakit yang diderita pasien pada saat itu (Hudaya, 2002). Pada kasus ini, pasien mempunyai penyakit penyerta yaitu hipertensi dan hiperkolesterol.

e)      Riwayat pribadi

Riwayat pribadi berisi tentang riwayat pribadi pasien seperti aktivitas sehari – hari, hobi, keluarga dan lain – lain (Hudaya, 2002). Pada kasus ini, pasien adalah seorang siswa di BBRSBD Surakarta, pasien mengambil program keahlian elektronik, dan sehari-harinya mengikuti kegiatan yang berada di lingkungan BBRSBD.

f)       Riwayat keluarga

Tidak ada keluarga pasien yang mengalami penyakit serupa.

3)      Anamnesis sistem

Anamnesis sistem meliputi: (1) kepala & leher, tidak merasakan pusing maupun kaku leher, (2) kardiovaskuler, tidak ada keluhan dada berdebar – debar ataupun nyeri dada, (3) respirasi, tidak ada keluhan sesak napas, (4) gastrointestinal, tidak ada keluhan susah buang air besar, (5) urogenitalis, buang air kecil terkontrol dan lancar, (6) muskuloskeletal, terdapat spasme otot pada kedua tungkai, serta pemendekan otot pada m.gastroc nemeus dan m.hamstring pada kedua tungkai, rasa kaku dirasakan pada kedua lutut dan lutut sulit untuk diluruskan, (7) nervorum, tidak ada kesemutan maupun nyeri menjalar pada kedua tungkai.
2.      Pemeriksaan objektif
a.       Pemeriksaan umum

1)      Tanda-tanda vital

Dari pemeriksaan tanda-tanda vital diperoleh: (1) tekanan darah: 130/ 80 mmHg, (2) denyut nadi: 78 kali/ menit, (3) pernapasan: 18 kali/ menit, (4) temperatur: 360 C, (5) tinggi badan: 163 cm, (6) berat badan: 69 kg.




2)      Inspeksi    

            Inspeksi merupakan suatu cara pemeriksaan dengan cara melihat dan mengamati kondisi pasien (Mardiman, 2002). Inspeksi dilakukan mulai dari pasien datang, pada kasus ini pasien datang menggunakan kursi roda dan terlihat kedua lutut ditekuk. Pemeriksaan ini dilakukan dalam dua cara yaitu inspeksi secara statis dan dinamis. Inspeksi statis, dilakukan pada posisi pasien tidur terlentang, hasil yang didapatkan adalah, posisi tidur pasien terlihat terdapat deformitas kedua knee kearah semi fleksi, inspeksi dinamis, dilakukan pada saat pasien berpindah dari kursi roda ke bed  hasil yang didapatkan yaitu kedua kaki pasien tidak mampu menahan berat badannya dan saat berpidah tempat tumpuan cenderung menggunakan kedua tangan. Saat beraktivitas sehari-hari pasien menggunakan alat bantu kursi roda.

3)      Palpasi
Pemeriksaan ini dilakukan dengan cara meraba, menekan dan memegang bagian tubuh pasien yang mengalami gangguan (Mardiman dkk, 2002). Palpasi diperoleh spasme pada kedua tungkai, suhu tubuh normal.

4)      Gerak dasar
a)      Pemeriksaan gerak aktif

Pemeriksaan gerak aktif didapatkan hasil yaitu pada gerak fleksi baik lutut kanan maupun kiri LGS normal, pada gerak ekstensi baik lutut kanan maupun kiri LGS terbatas.
b)      Pemeriksaan gerak pasif

Pada pemeriksaan gerak pasif didapatkan hasil berupa, pada gerak fleksi baik lutut kanan maupun kiri LGS normal, dan end feel pada kedua lutut soft untuk gerak ekstensi kedua lutut terbatas dan end feel hard.

c)      Pemeriksaan gerak isometrik melawan tahanan

Pemeriksaan gerak isometrik melawan tahanan dilakukan untuk provokasi nyeri dan untuk mengetahui kekuatan otot (Mardiman dkk,2002). Pada kasus ini pasien tidak merasakan nyeri saat gerak isometrik melawan tahanan manual pada kedua tungkai bawah yang diberikan oleh terapis.

5)      Pemeriksaan kognitif, interpersonal dan intrapersonal
Kognitif adalah pengetahuan yang mengaitkan perilaku manusia dengan susunan saraf otak. Kognitif meliputi kemampuan atensi, kosentrasi, memori, orientasi ruang dan waktu. Intrapersonal adalah kemampuan dalam memahami diri dan keadaannya, sedangkan interpersonal adalah kemampuan bagaimana berhubungan dengan orang lain (Mardiman dkk, 2002). Pada kasus ini, pemeriksaan kognitif didapati hasil yaitu atensi dan memori pasien bagus, selain itu pasien mampu mamahami dan mengikuti instruksi terapis dengan baik. Pemeriksaan interpersonal didapati hasil berupa adanya motivasi yang tinggi dari pasien untuk sembuh. Pemeriksaan intrapersonal didapati hasil yaitu pasien dapat berkomunikasi dan bekerja sama dengan terapis.
6)      Pemeriksaan fungsional dan lingkungan aktivitas
a)      Fungsional dasar

Pemeriksaan fungsional dasar diperoleh data berupa pasien mampu berdiri dari posisi duduk tetapi masih terdapat nyeri.

b)      Fungsional aktifitas

Kemampuan fungsional aktifitas meliputi pasien mengalami kesulitan saat shalat terutama saat duduk bersimpuh. Pasien masih mampu naik-turun tangga tanpa alat bantu meskipun masih dirasakan adanya nyeri.

c)      Lingkungan aktifitas

Lingkungan rumah pasien tidak ada tangga dan menggunkan WC duduk.

b.      Pemeriksaan khusus

Pemeriksaan khusus adalah pemeriksaan yang dilakukan untuk memperoleh informasi yang lebih lengkap yang belum tercakup dalam pemeriksan fungsi dasar. 
Pemeriksaan khusus yang dapat dilakukan meliputi :

1)      Pemeriksaan derajat nyeri

Pemeriksaan derajat nyeri menggunakan Verbal Descriptive Scale (VDS) yaitu pengukuran nyeri dengan tujuh skala panilaian yaitu (1) nilai 1  = tidak nyeri, (2) nilai 2 = nyeri sangat ringan, (3) nilai  3 = nyeri ringan, (4) nilai 4 = nyeri tidak begitu berat, (5) nilai 5 = nyeri cukup berat, (6) nilai 6 = nyeri berat, (7) nilai 7 = nyeri hampir tak tertahankan (Parjoto, 2000).
Pemeriksaan nyeri dengan menggunakan VDS pada lutut kiri dan kanan diperoleh hasil sesuai tabel 3.1.
TABEL 3.1
HASIL PENGUKURAN DERAJAD NYERI PADA LUTUT KANAN DAN KIRI MENGGUNAKAN VDS
Nyeri
Lutut kiri
Lutut kanan
Keterangan
Nyeri Diam
1
1
Posisi terlentang
Nyeri Gerak
3
4
Saat fleksi lutut
Nyeri Tekan
1
1
Pada medial /lateral lutut

2)      Pemeriksaan LGS lutut

Pemeriksaan LGS lutut dilakukan dengan goniometer. Tujuan pemeriksaan LGS untuk mengetahui ada tidaknya keterbatasan baik pada gerak aktif maupun gerak pasif dari sendi lutut (Parjoto, 2000). Menurut International of Standard Orthopaedic Messurement (ISOM), LGS lutut normal pada gerak aktif adalah S : 0-0-130. Pengukuran LGS lutut dengan goniometer  yaitu aksis pada epicondylus lateralis femur, lengan statis sejajar pada lateral paha dan lengan dinamis sejajar pada lateral betis pasien. Gerak fleksi diukur pada posisi tidur tengkurap dan pada gerak ekstensi diukur pada posisi tidur terlentang.


Hasil pemeriksaan LGS pda kedua lutut dapat dilihat pada tabel 3. 2.
TABEL 3.2
HASIL PENGUKURAN LGS LUTUT KANAN DAN KIRI 
LGS
Lutut kiri
Lutut kanan
Aktif
S 0 -0- 115
S 0 – 0- 110
Pasif
S 0 – 0 -125
S 0 – 0 - 115


3)      Pemeriksaan kekuatan otot penggerak sendi lutut

Pemeriksaan  kekuatan otot dapat dilakukan dengan menggunakan manual muscle testing (MMT),  kriteria penilaiannya dapat dilihat pada table 3.3.













TABEL 3.3
KRITERIA PENILAIAN KEKUATAN OTOT
Nilai
Keterangan
5
Subjek bergerak dengan LGS penuh, melawan gravitasi, melawan tahanan maksimal.
4+
Subjek bergerak dengan LGS penuh, melawan gravitasi, melawan tahanan hampir maksimal.
4
Subjek bergerak dengan LGS penuh, melawan gravitasi, melawan tahanan sedang.
4-
Subjek bergerak dengan LGS penuh, melawan gravitasi, melawan tahanan minimal.
3+
Subjek bergerak dengan LGS hampir penuh, melawan gravitasi, melawan tahanan minimal.
3
Subjek bergerak dengan LGS penuh, melawan gravitasi.
3-
Subjek bergerak melawan gravitasi dengan LGS lebih dari middle range.
2+
Subjek bergerak melawan gravitasi dengan LGS kurang dari middle range.
2
Subjek bergerak dengan LGS penuh, tanpa melawan gravitasi.
2-
Subjek bergerak dengan LGS tidak penuh, tanpa melawan gravitasi.
1
Kontraksi otot dapat dipalpasi tanpa menimbulkan gerak.
0
Kontraksi otot tidak terdeteksi dengan palpasi.
Sumber: Worthingham, 1980 dikutip oleh Mardiman dkk, 2002




Hasil pemeriksaan yang diperoleh dapat dilihat pada table 3.4.
TABEL 3.4
HASIL PEMERIKSAAN KEKUATAN OTOT PENGGERAK LUTUT KANAN DAN KIRI
Grup otot
Lutut kanan
Lutut kiri
Fleksor
4
4
Ekstensor
4 -
4

4)      Antropometri
Antropometri adalah cara pengukuran lingkar segmen tubuh dengan menggunakan pita ukur untuk mengetahui ada tidaknya pembengkakan atau pengecilan, dalam hal ini yang diukur adalah lingkar lutut (Parjoto, 2000). Caranya dengan menetukan titik-titik patokan pada tempat yang akan diukur dengan jarak yang sama, minimal 3 titik (Lesmana, 2002), misal 5 cm atau 10 cm dari tuberositas tibia, kemudian terapis mengukur segmen yang telah diberi patokan.
Hasil pemeriksaan antropometri dapat dilihat pada table 3.5.
TABEL 3.5
HASIL PEMERIKSAAN ANTROPOMETRI PADA LUTUT KANAN DAN KIRI
Titik Patokan Tuberositas tibia
Kanan
Kiri
15 cm ke proksimal
39 cm
39,5 cm
10 cm ke proksimal
38 cm
38,5 cm
5 cm ke proksimal
35,5 cm
36cm


5)      Pemeriksaan stabilitas sendi lutut
Osteoarthritis sendi lutut terjadi kerusakan pada kartilago, sehingga kerja otot dan ligament yang berfungsi untuk menjaga kestabilan sendi lutut semakin berat, apabila hal ini dibiarkan secara terus-menerus dan dalam jangka waktu yang lama, maka akan terjadi kelemahan otot dan kendornya ligament sehingga sendi lutut menjadi tidak stabil (de Wolf and Mens, 1994). Pemeriksaan stabilitas sendi lutut. meliputi :

a)      Tes laci sorong

Tes laci sorong ini digunakan untuk mengetahui adanya hipermobilitas dan untuk mengetahui stabilitas ligamentum cruciatum posterior (bila tarikan ke arah posterior) (de Wolf and Mens, 1994).   Posisi pasien terlentang dengan fleksi lutut  45 0  dan stabilisasi kaki, ditujukan untuk ligamentum cruciatum anterior dan ligamentum cruciatum  posterior. Terapis mendorong tungkai bawah untuk ligamentum cruciatum posterior dan menarik tungkai bawah untuk ligamentum cruciatum anterior. Hasil dari tes laci sorong pada lutut kanan maupun kiri adalah negatif  karena tidak ada hipermobilitas ke arah depan maupun belakang.
DSC00214                   
Gambar 3.1                                                    
Tes laci sorong
b)      Tes hiperekstensi

Tes hiperekstensi dilakukan untuk mengetahui penambahan sudut  ekstensi pada sendi lutut karena adanya lesi atau kendor pada ligamentum cruciatum anterior dan ligamentum cruciatum posterior (de Wolf and Mens, 1994). Cara pemeriksaannya adalah pasien berbaring terlentang dengan kedua tungkai lurus, tungkai bawah ditarik ke atas/ke arah ekstensi dengan pegangan pada pergelangan kaki, fiksasi pada atas lutut. Hasil dari tes hiperekstensi pada lutut kanan maupun kiri adalah  negatif karena tungkai bawah tidak mampu ditarik ke atas/ke arah ekstensi.
DSC00216
Gambar 3.2
Tes Hiperekstensi

c)      Tes hipermobilitas valgus

            Tes hipermobilitas valgus untuk mengetahui cidera ligamentum collateral mediale. Caranya pasien berbaring dengan tungkai yang akan diperiksa berada disamping luar bed, diposisikan fleksi lutut 300 , salah satu tangan terapis berada di sisi lateral lutut sebagai fiksasi dan tangan yang lain berada di sebelah dalam pergelangan kaki untuk memberi tekanan ke arah luar (valgus) (de Wolf and Mens, 1994). Hasil dari  tes hipermobilitas valgus pada kedua lutut adalah negatif karena tidak ada gerak  hipermobilitas ke arah valgus.
Foto026
Gambar 3. 3
Tes hipermobilitas valgus

d)     Tes hipermobilitas varus

            Tes hipermobilitas varus untuk mengetahui cidera ligamentum collateral lateral. Caranya, pasien berbaring dengan tungkai yang akan diperiksa berada di samping luar bed, diposisikan fleksi lutut 300, salah satu tangan terapis berada di sisi medial lutut  sebagai fiksasi dan tangan yang lain berada di sebelah luar pergelangan kaki untuk memberi tekanan ke arah dalam (varus) (de Wolf and Mens, 1994). Hasil dari tes hipermobilitas varus pada lutut kiri adalah negatif karena tidak ada gerak hipermobilitas ke arah varus, pada lutut kanan hasilnya positif karena adanya hipermobilitas ke arah varus.
Foto024
Gambar 3. 4
Tes hipermobilitas varus
6)      Pemeriksaan akumulasi cairan pada sendi lutut
a)      Tes ballottement
            Tes ballottement mengetahui apakah ada cairan di dalam lutut. Caranya yaitu pasien tidur terlentang kemudian ressesus supra patelaris di kosongkan dengan menekan  satu  tangan dan sementara jari tangan lain  menekan patella ke bawah. Dalam keadaan normal patella tidak dapat ditekan ke bawah karena sudah terletak di atas kedua condylus dari femur (de Wolf and Mens, 1994). Hasil pemeriksaan ini adalah negatif karena  patella pada kedua lutut tidak dapat ditekan ke bawah.
DSC00206
Gambar 3. 5
Tes ballottement

7)      Pemeriksaan kemampuan fungsional dengan skala jette.
  Hal-hal yang dinilai dalam pemeriksaan status fungsional jette meliputi (1) berdiri dari posisi duduk, (2) berjalan 15 meter dan (3) naik tangga 3 trap.


Penilaian skala jette tercatum dalam tabel 3.6.
TABEL 3.6
SKALA JETTE
Bentuk aktivitas
Kemampuan beraktivitas
Nilai
1.      Berdiri dari posisi duduk














Nyeri



Kesulitan




Ketergantungan






1 = tidak nyeri
2 = nyeri ringan
3 = nyeri sedang
4 = sangat nyeri
1 = sangat mudah
2 = agak mudah
3 = tidak mudah/ tidak sulit
4 = agak sulit
5 = sangat sulit
1 = tanpa bantuan
2 = butuh bantuan dengan alat
3 = butuh bantuan orang
4 = butuh bantuan orang dan alat
5 = tidak dapat melakukan
2.      Berjalan 15 meter
Sama dengan atas
Sama dengan atas
3.      Naik tangga 3 trap
Sama dengan atas
Sama dengan atas
Sumber : Fisher, Jette AM, 1980 dikutip oleh Parjoto, 2000.








            Hasil pemeriksaan aktivitas fungsional dapat dilihat pada tabel 3.7.
TABEL 3.7
HASIL PEMERIKSAAN AKTIFITAS FUNGSIONAL MENGGUNAKAN SKALA JETTE
Indeks fungsional jette
Lutut kanan
Lutut kiri
1.      Berdiri dari posisi  duduk
·         Nyeri
·         Kesulitan
·         Ketergantungan

3
3
1

2
2
1
2.      Berjalan 15 meter
·         Nyeri
·         Kesulitan
·         Ketergantungan                                            

3
3
1

2
3
1
3.      Naik turun tangga 3 trap
·         Nyeri
·         Kesulitan
·         Ketergantungan

4
4
1

3
4
1

c.       Pemeriksaan penunjang

1)      Pemeriksaan hasil foto rontgen

Pemeriksaan hasil foto rontgen membantu menegakkan diagnosis pada osteoarthritis. Foto rontgen lutut sinistra pada tanggal 14 November 2007 didapatkan kesan OA lutut grade II, yaitu (1) adanya osteofit pada condylus lateral os femur, os tibia sinistra dan os patela sinistra, (2) belum tampak penyempitan celah sendi, (3) belum tampak kista maupun sklerotik subkondral.

B.     Pelaksanaan Terapi

1.      Tujuan
Tujuan fisioterapi dalam melakukan tindakan terapi pada kasus OA sendi lutut yaitu (1) mengurangi nyeri, (2) meningkatkan LGS, (3) meningkatkan kekuatan otot, (4) meningkatkan aktifitas fungsional.
2.      Modalitas fisoterapi
Modalitas fisioterapi yang digunakan pada kasus OA sendi lutut ini adalah MWD dan terapi latihan.

3.      Pelaksanaan fisioterapi
a.      Microwive diathermy
1)      Persiapan alat
Sebelum pengobatan dimulai terlebih dahulu pastikan bahwa alat berfungsi dengan baik. Hubungkan alat dengan sumber arus. Pilih emiter dan pasang pada lengan emiter. Alat dihidupkan kemudian alat dipanaskan selama 5 menit, intensitas pada posisi nol (steady switch) (Sujono, 2001).

2)      Persiapan pasien
Posisi pasien tidur terlentang di bed  dan diberi penyangga di bawah lutut supaya rileks dan bagian yang diobati tidak berubah. Terlebih dahulu pasien diberi penjelasan tentang tujuan terapi dan mengenai panas yang dirasakan yaitu rasa hangat. Kemudian dilakukan tes panas dingin untuk mengetahui apakah pasien mengalami gangguan sensibilitas atau tidak, Dari hasil pemeriksaan sensibilitas pasien tidak mengalami gangguan sensibilitas Daerah yang diobati bebas dari pakaian (Sujono, 2001).

3)       Pelaksanaan terapi
            Setelah persiapan selesai, terapi dapat dimulai. Emiter diatur agar posisinya tegak lurus dengan daerah yang diterapi yaitu bagian anterior daerah yang diterapi. Jarak emiter dengan daerah yang diterapi yaitu bagian anterior lutut kurang lebih 10 cm (Low, 2000). Waktu yang digunakan 15 menit. Menggunakan arus continous dengan intensitas normalis atau rasa hangat menurut pasien (Wadsworth, 1983). Frekwensi terapi dilakukan senyak 3 kali dalam satu minggu.
DSC00124  
 
Gambar 3.6
Pemasangan MWD pada OA sendi lutut bilateral



b.      Terapi latihan 
1)       Hold relax yang dimodifikasi     
a)      Persiapan pasien
Pasien diposisikan  tidur tengkurap di atas bed.

b)      Pelaksanaan terapi
Terapis berada di sebelah tungkai yang akan dilatih, gerakan tersebut aktif atau pasif ke arah agonis sampai batas nyeri. Terapis memberi tahanan di bagian distal sendi lutut yang bergerak dengan arah  berlawanan dari gerakan pasien. Kemudian pasien diminta mengkontraksikan kelompok antagonis tersebut tanpa terjadi gerakan atau kontraksi isometrik, dengan aba – aba “pertahankan disini…tahan…tahan…”. Selama 7 hitungan, kemudian dilanjutkan rileksasi, pasien benar-benar rilek kemudian terapis melakukan penguluran ke arah fleksi lutut. Gerakan ini dilakukan pengulangan 6-8 kali (Kisner and Colby, 1996).
DSC00220    DSC00223
Gambar 3.7
Pelaksanaan hold relax

2)      Free active movement
a)      Persiapan pasien

Pasien  diposisikan duduk ongkang – ongkang di tepi bed atau bersandar pada kursi.

b)      Pelaksanaan  terapi

Terapis menginstruksikan  kepada pasien untuk menekuk dan meluruskan salah satu lututnya secara bergantian dengan lutut satunya, terapis memberikan fiksasi pada bagian atas lutut pasien. Gerakan diulang hingga 5-10 kali untuk masing-masing lutut (Kisner and Colby, 1996).
DSC00237        DSC00235
Gambar 3.8
Pelaksanaan Free active movement

3)        Ressisted active movement
a)      Persiapan pasien

Pasien diposisikan duduk ongkang – ongkang di EN-Tree.
b)       Persiapan alat

Sebelum latihan dimulai dilakukan pengaturan berat beban dengan metode holten, dalam latihan ini dengan beban 5 kg pasien mampu melakuan gerakan fleksi ekstensi lutut sebanyak 12 kali untuk lutut kiri dan 6 kali untuk lutut kanan.
%                                                                                 Jumlah dari Repetisi
100                                                                                          1
95                                                                                            2
90                                                                                            4
85                                                                                            7 lutut kanan
80                                                                                            11 lutut kiri
75                                                                                            16
70                                                                                            22
65                                                                                            25
Diagram 3.1
Holten ( Traffas, 2008)
Rumus 1 RM = A Kg  X 100% / B %. A Kg = perkiraan beban yang diberikan, B % = jumlah pengulangan dalam %  (Traffas, 2008).
Pada kasus ini didapatkan hasil yaitu (1) lutut kiri, 1RM = 5 Kg x 100% / 80 % =  6,02 Kg =  6 Kg, (2) lutut kanan, 1RM = 5 Kg x 100% / 85 % =  5,8Kg =  6 Kg
Dosis latihan untuk lutut kiri maupun kanan menggunakan metode holten untuk meningkatkan endurance, dengan intensitas 30-65 % dari 1RM. Pada kasus ini penulis menggunakan intensitas 50% dari 1 RM, sehingga beban yang digunakan yaitu 50 % x 6 Kg = 3 Kg, repitisi = 20 kali, istirahat = 30 detik untuk setiap  pergantian seri dan dilakukan sebanyak 3 seri.
SBSH0063
Gambar 3.9
EN-Tree

c)      Pelaksanaan terapi

Terapis berada di samping pasien, kemudian mengatur posisi pasien di alat tersebut, kemudian pasien diminta menggerakkan sendi lututnya ke arah fleksi 90ْ dan full ekstensi sebanyak dosis yang telah ditentukan.
SBSH0058        SBSH0060
Gambar 3.10
Pelaksanaan ressisted active movement          
C.    Evaluasi Hasil Terapi
Tujuan evaluasi adalah  untuk mengetahui tingkat keberhasilan yang diharapkan, menentukan perlu tidaknya modifikasi mengenai modalitas dan  intervensi terapi. Untuk evaluasi nyeri dengan skala VDS, kekuatan otot dengan MMT, LGS dengan goniometer dan evaluasi kemampuan fungsional dasar dengan skala  jette.
Kondisi OA sendi lutut bilateral dengan penatalaksanaan fisioterapi menggunakan microwave diathermy dan terapi latihan didapatkan hasil evaluasi seperti yang terlihat dalam tabel 3.8 dan 3.9.




No
Data
T1
6-12-07
T2
10-12-07
T3
12-12-07
T4
14-12-07
T5
17-12-07
T6
19-12-07
1.
Nyeri
·   Nyeri diam
·   Nyeri tekan
·   Nyeri gerak

1
1
3

1
1
3

1
1
3

1
1
2

1
1
2

1
1
2
2.
LGS
·   Aktif
·   Pasif

S  0 – 0 -115

S  0 – 0 -125


S  0 – 0 -115

S  0 – 0 -125

S  0 – 0 -115

S  0 – 0 -125

S  0 – 0 -120

S  0 – 0 -130

S  0 – 0 -120

S  0 – 0 -130

S  0 – 0 -120

S  0 – 0 -130
3.
Kekuatan otot
·   Flexor
·   Ekstensor

4
4

4
4

4
4

4
4+

4
4+

4
4+
4.
Aktivitas fungsional
Berdiri dari posisi duduk
·  Nyeri
·  Kesulitan
·  ketergantungan
Berjalan 15 m
·   Nyeri
·  Kesulitan
·  Ketergantungan
Naik turun tangga 3 trap
·  Nyeri
·  Kesulitan
·  ketergantungan



2
2
1

2
3
1


3
4
1



2
2
1

2
3
1


3
4
1



2
2
1

2
3
1


3
4
1




2
2
1

2
3
1


2
4
1




2
2
1

2
3
1


2
4
1



2
2
1

2
3
1


2
4
1
TABEL 3.8
HASIL EVALUASI TERAPI PADA LUTUT KIRI
TABEL 3.9

No
Data
T1
6-12-07
T2
10-12-07
T3
12-12-07
T4
14-12-07
T5
17-12-07
T6
19-12-07
1.
Nyeri
·    Nyeri diam
·    Nyeri tekan
·    Nyeri gerak

1
1
4

1
1
4

1
1
3

1
1
3

1
1
3

1
1
3
2.
LGS
·    Aktif
·    Pasif

S  0 – 0 -110

S  0 – 0 -115


S  0 – 0 -110

S  0 – 0 -115

S  0 – 0 -115

S  0 – 0 -120

S  0 – 0 -115

S  0 – 0 -120

S  0 – 0 -115

S  0 – 0 -125

S  0 – 0 -115

S  0 – 0 -125
3.
Kekuatan otot
·    Flexor
·    Ekstensor

4
4-

4
4-

4
4-

4
4

4
4

4
4
4.
Aktivitas fungsional
Berdiri dari posisi duduk
·   Nyeri
·   Kesulitan
·   ketergantungan
Berjalan 15 m
·    Nyeri
·    Kesulitan
·    ketergantungan
Naik turun tangga 3 trap
·   Nyeri
·   Kesulitan
·   ketergantungan



3
3
1

3
3
1


4
4
1



3
3
1

3
3
1


4
4
1



2
3
1

3
3
1


4
4
1



2
3
1

3
3
1


4
4
1



2
3
1

3
3
1


4
4
1



2
3
1

3
3
1


4
4
1
HASIL EVALUASI TERAPI PADA LUTUT KANAN